TRANSLATE THIS BLOG

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by Anang

Monday, October 14, 2013

Kegundahan Si Paus Gembul




“Pengumuman! Pengumuman!”. Terdengar suara petugas kampus bagian kemahasiswaan sedang membacakan suatu pengumuman penting di kampus ini. Pengumuman pembagian kelas akhirnya ditempelkan rapat berjajar di mading kampus. Mahasiswa-mahasiswi berlari berduyun-duyun menyusuri anak tangga mendekati kertas pengumuman pembagian kelas tersebut. Tak terkecuali si Darko. Darko adalah seorang mahasiswa di sekolah kedinasan ini. Dia berperawakan tinggi dan putih. Badannya gembul dan wajahnya yang baby face sering membuat orang lain gemes melihatnya.
“Misi misi misi.” Darko pun tak kalah ingin segera melihat kelas yang akan dia masuki.
“Ah akhirnya ketemu juga namaku!” sembari mengarahkan jari telunjuknya ke kertas yang tertulis namanya.
Darko Widiatmoko. Ketemu juga nama terkeren sedunia ini. Dari tadi aku cari-cari dari kelas awal, eh ternyata aku dapat kelas abjad terakhir.” Gerutu Darko karena namanya tertera di kelas abjad terakhir di kampusnya.
“Kalo tau gini tadi aku cari dari bawah aja deh. Capek kali ngangkat tangan terus sambil nunjuk sana sini. Untung tanganku gak sampai kram.”
Sekolah tinggi dimana tempat menuntut ilmu Darko ini menyediakan tiga belas kelas dalam setiap tingkatnya yakni dari kelas A sampai M. Setelah melihat namanya tercantum di bagian kelas M, Darko pun melangkah mundur untuk keluar dari kerumunan para mahasiswa. Ketika dia melangkahkan kaki kanannya mundur selangkah, tanpa sengaja terdengar suara jeritan lirih dari belakangnya.
“Aw..!” Terdapat seorang gadis tengah menjerit dengan lirihnya di belakang Darko.
“Astaghfirullah. Kakimu terinjak kaki kananku ya?” tanya Darko.
“Hmmt.. Iya.” Jawab gadis itu sambil menundukkan kepalanya.
“Aduh maaf ya, aku beneran gak sengaja nih. Maklum ramai banget disini, jadi agak susah gerak deh. Apalagi badanku gedhe gini, jadi ya agak susah juga buat mengawasi kakiku biar gak nginjek kaki orang, apalagi kaki cewek.” Sahut si Darko dengan gaya konyolnya.
“Iya, gak papa. Nyantai aja.” Jawab santai sang gadis.
Darko pun mempersilakan gadis itu untuk melihat pengumuman pembagian kelas. Kemudian dia berjalan keluar dan menuju ke tempat favoritnya di kampus yaitu kantin. Dia termasuk orang yang suka makan. Tak heran jika badan yang dimilikinya adalah tipe big size.
Saat dia menikmati hidangan yang disajikan Bu Iyem, ada dua orang temannya muncul dan membuatnya kaget.
“Buadaalaa!!”
“Ah Cahyo gak lucu nih! Lihat nih makananku ada yang tumpah kan. Ingat, makanan itu berharga. Kasihan nih perutku, jatah makannya kamu buang gitu aja.” Gertak Darko kesal karena sahabatnya, Cahyo dan Dito.
“Haha.. Dasar Paus alay, baru juga gitu aja udah ngambek. Makanan jatuh dikit gitu aja protesnya minta ampun kayak gak pernah makan aja nih. Ingat, cadangan masih banyak tuh.” Sindir Dito sambil memukul perut Darko.
Paus adalah julukan tersendiri dari kedua sahabat Darko. Entah kenapa julukan itu pantas diperoleh Darko, seorang baby face gembul yang hobi makan dan tidur.
Keesokan harinya, Darko mulai memasuki kuliah perdananya di Kampus. Sayangnya, tiga serangkai yang terdiri dari Darko, Cahyo, dan Dito tidak sekelas. Cahyo memasuki kelas yang sama dengan Darko yakni kelas 1-M, sedangkan Dito masuk kelas 1-H.
Hal pertama yang dilakukan di dalam kelas 1-M adalah perkenalan. Sesama anggota baru dari kelas ini selayaknya berkenalan untuk mengakrabkan satu sama lain.
“Hai. Perkenalkan teman-teman. Namaku Darko Widiatmoko. Aku berasal dari Surakarta. Sebut saja Darko. Itulah panggilanku” si Darko memperkenalkan diri.
Giliran selanjutnya adalah seorang gadis yang tanpa sengaja kakinya terinjak oleh Darko sewaktu pengumuman pembagian kelas. Darko pun terkejut melihatnya, ternyata gadis bersuara lirih itu sekelas dengannya.
“Lhoh dia kan yang tadi kakinya aku injak. Aduh gimana nih. Semoga saja dia lupa masalah itu.” Gumam Darko sambil harap-harap cemas.
Gadis ini bernama Nurul Hasna. Dia menjadi sesosok wanita yang mendadak menjadi primadona di suatu sekolah kedinasan ini. Wajahnya yang manis, pipinya yang merah merona, bulu matanya yang lentik, dan sikapnya yang begitu menawan membuat para lelaki di kampus itu terkagum kagum olehnya. Bahkan, para bidadari pun mungkin dibuat iri karena keanggunannya. Sesekali, dia berjalan di depan kerumunan banyak mahasiswa dengan kepala tertunduk. Karena kepiawaiannya dalam menjaga diri ini, banyak lelaki yang memendam hati padanya.
Rasa damai saat memandangnya tanpa terasa menyudahi begitu saja perkenalan singkat tersebut.
“Eh kok cepet banget sih? Bukannya baru aja maju ya tadi?” Gumam Darko dalam hati.
Setelah perkenalan, secara maraton tanpa ada permisi langsung dilanjutkan dengan materi mata kuliah. Lama tidak membuka, bahkan melirik buku sekalipun membuat kuliah pagi ini terasa berat. Darko kemudian memalingkan muka ke belakang mencari dimana paras anggun tadi berada.
“Ah disana ternyata,” sembari bergumam sambil menghindari pandangan dosen dengan hati-hati.
Nurul terlihat diam, tenang, memperhatikan, seperti air dalam telaga seakan tidak akan ada suatu hal buruk yang akan berani menjamahnya sampai ketika,
Ketika Darko sedang keadaan lengah alias sedang memperhatikan gadis pujaannya itu, teman sebangkunya yang tidak lain adalah Cahyo mengambil smartphone dari mejanya dan membajak salah satu media sosial milik Darko. Tanpa berpikir panjang, Cahyo mengetik emoticon ‘:*’ kepada Nurul di jendela obrolan. Sebenarnya Cahyo tidak berniat buruk apapun. Dia memang memiliki kebiasaan buruk bercanda yang berlebihan dan lepas kontrol.
Sebelum Darko tersadar bahwa akunnya dibajak, Cahyo mengembalikan smartphone milik Darko dengan cepat kilat. Saat Darko memperhatikan Nurul, tiba-tiba dia dibalas dengan tatapan sinis si Nurul. Setelah Nurul melihat handphone miliknya, sikap Nurul menjadi berbeda kepada Darko. Darko pun mulai bingung kenapa tiba-tiba sikapnya berubah secara mendadak terhadapnya. Melihat perubahan sikap itu, kemudian Darko memalingkan pandangannya dan mulai memperhatikan dosen.
Selama sesi berlangsung, Darko tidak berkonsentrasi karena memikirkan perubahan sikap Nurul terhadapnya secara mendadak. Dan akhirnya “Waktu kuliah tinggal 5 menit lagi.” terdengar suara operator peringatan dengan suara wanita yang sangat lembut. Darko berniat untuk menemukan akar masalah dari semua ini saat istirahat nanti.
Bel operator tanda selesai sesi perkuliahan pun terdengar dan para mahasiswa segera meninggalkan ruang kelas. Nurul telah meninggalkan ruang kelas sebelum Darko menanyakan sesuatu kepada Nurul.
Kemudian Darko pergi ke kantin dan disana telah menunggu kedua sobat karibnya yang sedang makan yakni Cahyo dan Dito. Darko mulai cerita kejadian yang dialaminya selama sesi perkuliahannya.
“Aku bingung dengan perubahan sikap Nurul terhadapku hari ini.” Curhat Darko.
“Memangnya kenapa?”tanya Dito.
“Tadi tiba-tiba dia bersikap sinis kepadaku. Entah kenapa aku juga gak tahu. Masak kesamber gledek? Padahal juga ga ada gledek hari ini.” Jawab Darko.
“Maaf ni Ko. Sebenernya... Sebenernya... Tadi....” ujar Cahyo terbata-bata.
“Kenapa yo? Ngomong jangan setengah-setengah dong.” Sahut Darko.
“Sebenarnya tadi aku ngebajak akunmu. Hasrat menjahiliku sudah bikin aku kesurupan Ko. Maaf ya Ko.” Jawab Cahyo sesal.
“Apa? Kamu membajak akunku?”
Kemudian Darko membuka akunnya dan dia terkejut setengah mati.
“Pantesan.. Pantesan dia sesinis itu kepadaku. Ternyata kamu pelakunya ya Yo. Asli! Kamu itu bener-bener kelewatan Yo!” Jawab Darko dengan marah.
“Iya tuh kamu, Yo. Kamu lihat-lihat juga dong target jailmu. Orang sekalem Nurul bisa-bisanya kamu jahilin juga. Haha... Sudah-sudah! Mending sekarang mikirin gimana caranya menjelaskan ke Nurul.” Jawab Dito.
“Memang gimana??” tanya Darko.
“Kalian sudah tahu belum kalau minggu depan mau diadakan Perkemahan Budaya Angkatan di Bogor?” Tanya Dito sambil mendorong tahu bakso yang besar itu masuk kemulutnya.
“Lhoh, kok aku gak tahu? Itu acaranya gimana?” Darko pun hanya bisa memandangi Cahyo dan Dito berharap mendapat jawaban yang jelas.
“Ah apaan sih yang kamu tahu? Kamu kan apatis, ingetnya makan muluk. Acaranya itu besok minggu depan di Bogor dan dengar-dengar sih akan ada persembahan kelompok dimana tiap kelas terbagi menjadi dua kelompok untuk menampilkan persembahan yang berbeda.” Jawab Dito dengan panjangnya.
“Wah asyik nih, semoga saja aku sekelompok sama si Nurul dan aku juga bisa meluruskan kesalahpahaman ini.” Darko berkata dengan penuh harapan.
Website angkatan jelas terbuka daritadi, tidak ada aktivitas yang muncul, hanya menunggu dan menunggu.
“Cling! Cling!”
Akhirnya terdengar nada pemberitahuan muncul. Terlihat bahwa pengumuman kelompok sudah dirilis.
“Aku masuk kelompok apa ya?” Gumam Darko sambil mengepalkan tangan menahan adrenalin penantian yang berjolak.
Sayang seribu sayang, apa yang diharapkan oleh Darko yakni satu kelompok dengan sang bidadari bersuara lirih alias Nurul tidak dapat terwujud. Darko masuk ke kelompok dancing, sedangkan nama Nurul ada di kelompok singing. Di kelas Darko memang dibagi menjadi kelompok dancing dan singing karena mereka ingin mementaskan pertunjukkan dari kelompok menari dan menyanyi.
Kesepakatan pun sudah ditetapkan. Darko pun tiada bisa berbuat apa-apa lagi.
“Tiada daya aku tak kuasa mengubah semua ini. Semua telah diketuk palu.” Gumam Darko sok puitis.
Setelah membaca pengumuman kelompok, hati Darko terasa tertusuk-tusuk. Karena terlalu kecewa dan putus asanya sampai dia merasakan daging di badannya terasa teriris-iris tipis. Darko termenung dan melamun sendiri dan tiba-tiba datanglah sohib-sohibnya. Cahyo dan Dito datang dengan tiba-tiba lalu mereka mendadak mendorong badan besar Darko dari belakang. Namun badan darko rupanya lebih dahsyat pantulannya daripada dorongan Cahyo dan Dito. WOOW!! Dua lawan satu tetap aja menang Darko.
“Kalian tuh ngapain sih tiba-tiba nongol dari belakang? Asal kalian tahu aja nih, badanku terbuat dari 10 tumpukan kasur busa,” menjawab candaan si Cahyo dan Dito.
Darko memang lihai dalam memainkan ekspresi untuk menutupi suasana hatinya. Dia berusaha menyembunyikan dengan seaman-amannya dari siapapun tentang suasana hatinya yang sedang mendung saat itu. Namun apalah daya Darko tak kuasa lagi menyembunyikan awan mendung di hatinya dari kedua sohib tengil itu. Mereka memang selalu bertingkah jail dan konyol. Namun mereka adalah kedua sosok sahabat yang benar-benar memahami keadaan sahabatnya sendiri.
“Heyy.. Paus! Kamu kenapa? Belum makan? Laper? Suram banget wajahmu tuh. Kayak paus kelaparan tuh. Coba ngaca deh kalau ga percaya.” Tanya Dito.
“Suram gimana? Wajah unyu kayak gini kok suram sih? Darko coba mengelak.
“Mau unyu, lucu, imut, atau baby face pun mukamu tuh ga bisa bohongin kita tau sob.” Sahut Cahyo.
“Bohong apa?” Elak si Darko tajam.
“Ya kamu bohong mainin ekspresi muka yang sok ceria itu. Padahal kamu pasti ada suatu ganjalan di hati kan.” Jawab lantang Dito.
“Kamu ceritain ke kita aja apa sih yang bikin hatimu mengganjal. Siapa tau kita bisa ngasih solusi atau masukan.” Cahyo berusaha meyakinkan Darko.
Akhirnya, Darko pun bersedia meluapkan segala isi hati dan apa pun yang tengah dia rasakan. Dia menceritakan bahwa harapan untuk bisa sekelompok dengan Nurul sirna sudah. Darko telah memendam rasa kepada Nurul. Walau terbilang singkat, benih-benih asmara telah bermunculan di hatinya. Maka dari itu, Cahyo dan Dito menjadi tiada tega menyaksikan paus karibnya itu kecewa dan bersedih hati. Mereka memberi semangat dan masukan kepada Darko supaya memanfaatkan momen ketidakbersamaan itu. Darko mulai paham dan mengerti apa yang dikatakan kedua sahabatnya. Dia mulai ceria dan bersemangat kembali seperti sedia kala.
 

Hari demi hari pun ia jalani dengan segala bentuk latihan guna mempersiapkan penampilan persembahan. Karena setiap kelompok harus ada satu orang yang ditunjuk sebagai ketua sekaligus penanggung jawab. Maka dipilihlah Rian sebagai ketua kelompok singing dan Toto sebagai ketua kelompok dancing. Dalam persembahan ini, Darko ditantang Toto untuk tampil menjadi centre. Dia mendapatkan peran merebut hati para penonton. Hal ini karena badan gembulnya dapat mengundang tawa.
Sebagai centre, Darko memang seharusnya tampil total. Setiap hari dia berlatih koreografi yang telah diajarkan Toto kepadanya. Koreografi Darko memang berbeda dengan anggota lain.
Suatu hari setelah selesai latihan, Darko istirahat sejenak di kantin guna mengisi tenaga alias bahan bakar yang hampir habis. Dia memasukkan stok makanan ke dalam perutnya. Karena terlalu bersemangat, Darko hampir lupa mengisi cadangan makanan di perutnya. Maka Darko melahap semua makanan yang telah dipesannya tersebut. Tiba-tiba datang seorang menghampirinya yakni sang ketua sekaligus penanggung jawab kelompok dancing.
“Ko. aku perhatiin sepanjang latihan tadi kamu adalah anggota yang paling serius latihan.”
“O ya? Masa sih? Ga juga deh.” Sangkal Darko.
“Halah. Ga usah belagak gatau gitu deh Ko.”
“Kalau aku memang serius kenapa? Adakah yang salah?” tanya Darko.
“Ga juga sih. Itu berarti kamu menikmati tugasmu sebagai centre. Semoga persembahan kelompok kita menang ya Ko.”
“Aamiin.”
Momen persembahan akhirnya datang juga. Latihan yang telah dijalani harus dibayar selama persembahan ini. Kelompok dancing 1-M mendapatkan giliran ke lima. Sembari menunggu giliran kelompoknya, Darko duduk manis menonton persembahan kelompok lain.
“Bagus juga persembahan kelompok lain. Minimal ga memalukan.”
Darko mulai kehilangan percaya dirinya. Keringat dingin pun menetes tak terbendung di tubuhnya. Saat itu juga ada seseorang datang menghampirinya.
“Kamu kenapa Ko?”
“Eh, kamu Nurul. Gapapa kok, cuma agak minder nih, persembahan kelompok lain keren-keren.”
“Jangan minder gitu dong. Tunjukkan kalo persembahan 1-M itu kerennya ga main-main. Tetep total!”
Setelah Darko diberi rangsangan semangat, dia pun terbakar semangatnya. Semangat berapi-apinya pun muncul. Kelompok demi kelompok pun mulai tampil dan sekarang tibalah saatnya kelompok dancing 1-M. Darko pun mulai beraksi dan menampilkan segalanya melebihi apa yang telah dilakukan ketika latihan. Darko benar-benar mendapatkan respon positif dari para penonton. Para penonton tertarik pada penampilan kelompok dancing 1-M khususnya penampilan Darko. Malam itu Darko memang mengundang banyak tawa karena penampilannya tak terkecuali Nurul. Di belakang panggung Nurul berkata kepada Darko.
“Penampilan tadi lucu. Kamu berhasil.” Kata Nurul memuji.
“Kamu bilang kayak gitu ke aku? Kamu udah gak sinis nih sama aku?” tanya Darko heran.
“Memangnya aku ga boleh ya bilang kayak gitu?”
“Bukan gitu juga. Kamu kan jadi sinis dan menghindariku. Sepertinya kamu salah paham deh. Sebenarnya, akunku dibajak Cahyo. Dia memang jailnya ga ampun-ampunan.” Jelas Darko panjang lebar.
“Aku gak menghindar kok. Waktu itu aku buru-buru keluar dari kelas soalnya pengen lihat pengumuman panitia di mading.” Jawab Nurul.
Mendengar penjelasan itu rasanya banyak bunga bertebaran di hati. Sungguh senang hati Darko. Saat itu Darko dan Nurul mulai saling mengobrol dan menambah mekarnya bunga di hati Darko.
Acara persembahan kelompok pun hampir usai. Semua kelompok telah mempersembahkan penampilan mereka masing-masing. Acara persembahan ditutup dengan gemerlap kembang api di langit malam perkemahan budaya. Malam itu juga Darko, Nurul, dan teman-teman mereka mengobrol bersama. Di tengah obrolan, Cahyo mempunyai ide untuk bermain Truth or Dare. Persetujuan dan kesepakatan sudah didapatkan dari semua pihak termasuk Darko dan Nurul. Permainan pun dimulai. Pena yang digunakan sebagai alat permainan pun mulai diputar. Malang sungguh malang nasib Darko malam ini. Pena itu mengarah padanya dan berbagai macam pertanyaan terlontar padanya.
“Ko, aku penasaran nih. Kenapa kamu mau mempermalukan diri di persembahan tadi?” tanya Toto
“Siapa yang mempermalukan diri? Aku ga malu-maluin kan? Justru aku malah seneng kalo temen-temen semua tu juga terhibur dengan penampilanku tadi.” Jawab santai Darko.
“Terus, kamu mau nglakuin itu semua karena siapa hayoo ngaku?” Interogasi Cahyo.
“Untuk kalian semua lah. Aku memang pengen tampil total di persembahan ini supaya tidak mengecewakan.”
Darko memang pandai merangkai kata supaya rasa kagumnya terhadap Nurul tidak dapat diketahui. Kemudian permainan dilanjutkan dan pena pun diputar kembali. Kali ini sungguh tak disangka kemana arah pena itu berhenti. Pena pun berhenti tepat ke arah Nurul. Darko tidak mau kehilangan kesempatan untuk bertanya-tanya padanya.
“ Aku mau tanya sesuatu dan kuharap kamu tidak tersinggung. Nur, kenapa kalau di tengah jalan, kamu seolah-olah ga kenal sama aku sih? Kenapa sikapmu sering begitu? Apa menurutmu aku sangat memalukan?” Tanya Darko penasaran.
“Kalau aku ga nyapa sewaktu di jalan itu kemungkinan besar karena aku ga bisa melihat dengan jelas siapa saja yang aku jumpai. Kamu kan tahu sendiri kalau aku jarang pake kacamata kalau ga lagi baca.”
“Owh.. Jadi kamu ga tahu ya siapa saja yang papasan sama kamu kalau di tengah jalan. I see I see.” Ujar Darko.
“Iya. Maaf ya. Lain kali tolong tegur aku ya.”
“Sekarang giliran aku yang tanya. Nur, kira-kira ada sesosok lelaki yang kamu kagumi ga di sekolah kita?” Tanya Toto.
“Hmm.. Aku bukan tipe orang yang menyibukkan diri dengan hal-hal seperti itu. Jadi, aku malah gak kepikiran mencari-cari siapa idolaku di sekolah ini.” Jawab Nurul santai.
“Kalau misalnya ada seseorang yang naksir sama kamu dan dia telah berkorban mempermalukan dirinya agar kamu tertawa?” tanya Cahyo
“Hmm. Aku akan berterima kasih kepadanya sekaligus meminta maaf kepadanya. Aku minta maaf karena tidak bisa membalasnya sekarang karena aku belum memikirkan hal-hal seperti itu.” Jawab Nurul bijaksana.
Mendengar jawaban Nurul, kemudian Darko terlihat patah semangat. Bunga-bunga di hatinya yang baru saja mekar seakan berguguran secara perlahan. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Rasa kagum dan cinta yang sangat mendalam kepada sang bidadari ternyata hanya berjalan searah.
Malam itu merupakan malam penyadaran bagi Darko. Walaupun hati Darko masih terluka dan kecewa karena apa yang terjadi tidak sesuai harapannya, dia tetap harus menjalani hidupnya. Kedua sahabat karibnya selalu memberi semangat kepadanya agar dia bisa move on dari perasaannya.
Perlahan Darko mulai bangkit dari rasa sedihnya. Dia mulai menyibukkan dirinya agar perhatiannya tidak terfokus kepada gadis pujaannya itu. Dia tersadar bahwa Tuhan memang mudah mempertemukan dua hati dengan cara indah-Nya dan Tuhan juga memiliki cara yang paling sempurna untuk menghubungkan kedua hati tersebut meskipun secara raga tidak bisa saling bersatu.

by: Aditya Riskian
      Afifah Imas N.
PENTING : Tokoh hanyalah fiktif karya lamunan amatir~ Sippp~
Sekelumit pengobat resah saat waktu meluap meminta hati~ :v

4 comments: