TRANSLATE THIS BLOG

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by Anang

Sunday, January 26, 2014

Awan



Rintik hujan di luar terdengar begitu sendu dengan temaram lampu kamar yang tidak begitu terang. Suasana sepi membuat pikiran meracau untuk mencari hiburan di luar. Akan tetapi tubuh ini terlalu capai untuk keluar, berharap akan ada hiburan yang datang. Tiada henti-hentinya diriku menengok handphone jadul ini dan berharap akan ada sms masuk, terutama sms dari Awan yang tak kunjung datang.
“Dring…”
Segera aku ambil handphoneku dengan cepat yang sedari tadi menganggur di samping kasurku. Dengan cermat, diriku membaca sms tersebut. Setiap kata yang terbaca, aku maknai dengan dalam. Tetapi nyatanya, sms itu datangnya dari operator yang kian menambah kesedihanku. Aku kembali membaringkan badanku ke kasur yang setia menemani kegundahan malam-malamku selama lima tahun terakhir.
“Ting tung ting ting…” Tanpa melihat layar handphoneku, aku yakin kalau kali ini Awan yang menelponku, orang yang kabarnya selalu kunantikan.
“Wan, kamu tahu gak sih aku tuh sedih kamu cuekin terus seharian. Kemana aja sih kamu?”, tanyaku dengan cepat.
Kupeluk bantalku sambil berceloteh, berharap dia akan kesal denganku dan menunjukkan ekspresi imutnya meskipun hanya lewat suara.
“Aduh, Nada.. Apa-apaan sih? Ini Mama, bukan Awan. Mama cuman mau ngasih tahu kalau nanti mama sama papa mau pergi keluar kota selama tiga hari. Jangan lupa rumahnya dibersihkan setiap hari ya sayang.”
Mendengar suara yang jauh dari harapan tersebut membuat diriku kecewa. Aku merasa semakin sepi dengan kesendirianku di rumah yang sederhana ini.
“Iya Ma. Jangan lupa oleh-olehnya ya. Hati-hati di jalan Ma.”, jawabku dengan nada data.
Aku akhiri percakapan ini dengan membalikkan badanku, berharap aku akan tertidur pulas.
“Dimana kamu Awanku? Mengapa sekarang kamu menjadi mendung yang selalu membuatku sedih?”
***
Suara burung yang bersahutan, semilir angin segar, dan rimbun hijau pepohonan dengan ramah ikut mengantarku ke sekolah. Setelah sampai di depan gerbang SMA Negeri Sederhana, aku segera memasuki kelas XII-IPA 3. Di tengah suasana riuh kelas, tiba-tiba aku melihat guruku datang dengan seorang pemuda asing.
“Eh Indah, siapa tuh cowok? Anaknya Bu Risni ya?” Aku berbisik-bisik dengan teman semejaku sambil terus mengamati setiap gerik-gerik pemuda tersebut.
Bu Risni kemudian masuk dan berdiri di depan kelas ditemani oleh pemuda tersebut.
“Anak-anak, ini ada siswa baru pindahan dari Tempelan.”
“Perkenalkan nama saya Awan, saya cowok tulen, sudah?”, jawabnya dengan senyuman lebar.
Kata-kata Awan barusan membuat seluruh kelas, termasuk aku, tertawa terbahak-bahak. Postur tubuhnya yang sedang dan pipinya yang tembem, membuat setiap tingkahnya semakin lucu.
Awan akhirnya mendapatkan tempat duduk di sebelah mejaku. Aku yang terkesan dengan selera humornya tanpa sadar berbuat hal yang memalukan.
“Hai Awan, namaku Nada. Sumpah, tadi kamu lucu banget!”
Seketika diriku sadar jika aku seperti gadis lajang yang suka memperkenalkan diri, memang aku lajang, tetapi…
***
Semakin hari rasanya aku dan Awan semakin dekat. Aku yang tadinya selalu berangkat sekolah lewat Jalan Kamboja, sekarang berpindah jalur ke Jalan Mawar agar bisa berangkat bersama Awan yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Aku suka saat dia segera menghampiriku di saat aku melewati rumahnya. Aku suka dengan senyuman lebarnya yang menandakan betapa senangnya dia melihatku. Aku suka dengan gayanya yang lucu, pipinya yang tembem, dan matanya yang bulat. Aku suka bagaimana dia perhatian padaku, bagaimana tingkahnya saat dia merasa malu padaku, dan pandangan sedihnya di saat aku merasa kesulitan. Aku merasa…
“Dring…”
Bunyi sms masuk menghancurkan lamunanku. Aku baru sadar kalau aku harus segera pergi ke sekolah untuk mendekorasi panggung acara wisuda. Aku merasa sangat senang karena angkatanku berhasil lulus dari Ujian Nasional yang mengerikan.
Sesaat aku melangkahkan kaki di depan rumahku, aku merasa ada linangan air mata yang menggantung, mengalir pelan di pipiku. Entah mengapa, aku merasa sangat sedih ketika melewati Jalan Mawar. Aku merasa sesak, terasa ada gumpalan emosi yang memenuhi rongga dadaku. Aku takut kehilangan Awan. Seseorang yang baru kukenal setahun namun sangat berarti dalam hidupku. Meskipun kami sepakat tidak akan pacaran, akan tetapi bukan itu yang membuatku sedih. Terendap rasa takut dalam setiap langkah ini.
“Nada, ayo cepat ke sini! Aku butuh bantuanmu sekarang.”
Indah yang merupakan sahabat karibku segera menarikku untuk mendekorasi panggung. Aku yakin akan ada hari yang lebih indah setelah acara wisuda nantinya.
***
Seharian aku duduk di depan komputerku, berharap akan ada berita bahwa pengumuman SBMPTN telah dipublikasikan. Waktu demi waktu kuhabiskan dengan mengawasi Facebook dan memakan cemilan yang berserakan di sekitar meja komputerku. Perasaan gelisah dan khawatir memaksaku untuk memakan segala jenis makanan yang ada, mengacuhkan program dietku yang sudah berjalan selama tiga bulan.
“Ting tung ting ting…” Segera kuambil handphoneku dan kulihat ada nama Awan di layar handphoneku.
“Assalamu’alaikum… Apa apaan nih tiba-tiba nelpon? Kangen aku ya?”
Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore sambil meringis akan kata-kataku barusan.
“Wa’alaikumsalam... Iya nih kangen, sudah tiga hari kita gak ketemuan. Kamu belum jadi beruang kan?”
Terdengar tawa kecil Awan dari handphoneku. Tanpa dia sadari, sebenarnya selama tiga hari tersebut aku merasa sangat gelisah memikirkannya. Bagaimana jika nanti kami tidak satu universitas, bagaimana jika nanti kami jarang berjumpa, dan bagaimana jika nanti kami semakin renggang. Laki-laki memang makhluk yang paling tidak sensitif dan berpikiran pendek!
“Halo… Nada, kenapa kok bisik-bisik? Aku gak denger nih.” Suara kebingungannya yang lucu kembali mengembangkan senyumanku.
“Ih pengen tahu aja nih. Makanya jangan di rumah aja, sesekali main ke rumahku dong”
Awan memang seorang anak rumahan. Dia tidak pernah bermain jauh dari rumahnya kecuali untuk sekolah.
“Ah nggak mau ah” Sesaat pembicaraan berhenti sejenak.
 “Aku takut nih sama mama kamu. Eh, pengumuman SBMPTN sudah terbit lho, coba deh buka websitenya. Aku akhirnya berhasil masuk jurusan Teknik Geologi ITB nih. Kamu gimana? Masuk ITB juga kan?”
Segera kubuka website SBMPTN dan memasukkan identitas diriku.
Nada Lily Sukmawati – FMIPA-Matematika Murni – UGM
Rasa sedih pun tak terbendungkan. Segera kubuang handphoneku dan menangis di balik bantal. Aku sedih karena gagal masuk jurusan Teknik Kimia ITB. Aku sedih tidak bisa bersama Awan pergi keluar melintasi Yogyakarta, tempatku dan Awan tinggal. Aku mengutuk diriku sendiri yang gagal lolos SBMPTN di pilihan pertama. Aku mengutuk diriku yang bermalas-malasan saat belajar. Aku mengutuk diriku yang terlalu mencintai Awan, yang membuatku tidak mampu jauh darinya.
***
Pagi ini tidak secerah pagi sebelumnya. Mungkin bagi orang lain sama saja, namun tidak bagiku. Hari ini aku akan pergi ke Taman Mawar Merah. Sesuai dengan namanya, taman yang berada di Jalan Mawar tersebut ditumbuhi banyak tanaman mawar merah. Aku memakai kaos merah muda dengan kardigan abu-abu pemberian Awan. Jeans biru dan sneakers abu-abu menyempurnakan penampilanku saat ini. Aku telah menyiapkan diriku sesempurna mungkin. Kupasang senyuman terindahku sambil melangkah menuju taman tersebut.
Hari ini Awan tidak berpakaian seperti biasanya. Kali ini dia menggunakan kemeja biru tua kasual dan jeans hitam. Ditambah dengan sepatu Kickers coklat gelap yang membuat dirinya menjadi lebih tampan daripada biasanya. Rambutnya yang biasanya berantakan, sekarang terlihat rapi. Kulihat wajahnya yang berpendar cahaya hangat, terasa ada sengatan cinta yang lebih kuat. Senyumnya yang khas dengan wajah bulatnya yang lucu membuat diriku benci pada kenyataan ini.
Hari ini merupakan hari terakhir Awan di sini, sebelum akhirnya dia harus pergi ke Bandung untuk kuliah. Kami terus berbicara ini dan itu sambil tertawa. Kami tidak ingin merusak hari ini dengan kesedihan. Akan tetapi, aku harus mengutarakan isi hatiku sebelum aku kehilangan kesempatan itu. Sudah tidak ada waktu lagi untuk menunda.
“Wan, aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu.” Aku remas dengan erat tas yang aku bawa. Aku merasa sangat gugup untuk mengatakan hal seperti ini.
“Kenapa Na? Ngomong saja, kayak orang gak kenal saja.” Wajah innocent Awan semakin membuatku bingung bagaimana mengucapkannya. Aku sungguh bingung. Aku lihat sekitar taman ini, berharap ada ide yang keluar dan…
“Begini, aku mau cerita. Ada orang namanya A dan B. Mereka itu sangat dekat dan mereka suka satu sama lain meskipun nggak pacaran. Si A ini merasa takut karena si B akan pergi ke tempat yang jauh. Dalam hati si A, dia ingin membuat janji dengan B. A ingin kedua belah pihak selalu memberikan kabar agar hubungan mereka tetap jelas. Apabila ada salah satu pihak yang kemudian suka dengan orang lain, maka dia harus memberitahu pihak satunya agar tidak terjadi penantian yang sia-sia. Menurut kamu Wan, si B itu mau gak ya janji seperti itu?”, tanyaku sambil memperhatikan wajah Awan.
“Tentu saja si B mau. Si B bakalan sms dan telpon si A terus setiap hari. Si B tidak mungkin bisa meninggalkan si A tanpa tahu kabar apapun tentangnya. Si B pasti akan sangat takut jika terjadi sesuatu dengan si A… Nada, aku gak mau kehilangan kamu...”
Awan kemudian menatapku dengan dalam, matanya yang jernih dan wajahnya yang lucu membuatku selalu ingin memeluknya. Tidak pernah aku merasa sangat sedih seperti ini, ditinggalkan oleh kekasih hati. Ingin rasanya waktu sejenak berhenti,. Bersama di taman ini, saling bercerita tiada henti. Merasakan hangat senyumnya yang meneduhkan hati, seakan semua masalah ini tidak pernah ada. Aku pasti akan selalu merindukannya…
***
Tidak terasa hari ini sudah memasuki hari pertama di bulan Desember. Musim hujan membuat hari-hariku semakin bertambah kelam. Setiap aku menatap langit, sudah tidak ada lagi gumpalan awan yang menghias langit dengan warna putih sucinya. Awan telah tergantikan oleh mendung yang gelap dan kelam, seakan pembawa berita buruk dari langit.
Sudah seminggu Awan tidak memberi kabar. Seminggu yang lalu Awan berpesan bahwa dia akan menonaktifkan handphonenya sementara karena akan ada ujian tengah semester. Hidup terasa begitu hambar. Sudah lama aku tidak melihat senyumnya yang menggemaskan dan perhatian ringannya yang menghibur. Meskipun sebenarnya dia agak kaku, dia merupakan orang terlucu yang pernah aku kenal sekaligus pisau yang siap menikam hatiku kapan saja.
“Dring… Dring… Dring…” Tiba-tiba saja ada tiga sms yang masuk bersamaan. Perasaan aneh tiba-tiba saja muncul dari benakku. Aku baca satu per satu dari setiap sms yang masuk. Sms tersebut berasal dari nomor yang tidak dikenal. Pengirim sms tersebut seakan sudah mengetahui siapa aku meskipun aku belum pernah mengenalnya.
“Halo Nada, aku Rizky. Aku cuman pengen kenal kamu saja. Tapi aku sudah cukup tahu kok tentang kamu, paling kamunya saja yang belum kenal sama aku.”
Sms yang cukup mencurigakan bagiku. Rasanya seperti ada yang ingin mencoba mengerjaiku akan tetapi ulang tahunku sudah lewat. Aku tanggapi saja setiap sms yang dia kirim secukupnya.
“Oh iya aku lupa. Aku itu sahabatnya Awan, aku tahu kamu karena aku orangnya suka penasaran. Aku suka mencari tahu apa saja mengenai orang itu dengan banyak cara. Bisa dibilang kepo kalau bahasa gaulnya.”
Sms ini membuatku sangat terkejut. Aku tidak menyangka bahwa malah sahabatnya Awan yang menghubungi aku. Aku yang sudah sangat merindukan Awan pun segera menanyakan kabarnya.
“Rizky, gimana kabarnya Awan?”
Secepat kilat kuketik tombol handphoneku. Kutunggu dengan rasa penuh penasaran akan kabarnya.
“Ohhh, si Awan baik-baik saja kok. Kemarin dia sempat frustasi karena kesalahan kecilnya. Aku kasihan dengan dirinya yang depresi karena masalah kecil waktu ujian. Aku sangat sedih akan keadaannya kemarin. Tapi tenang, sekarang keadaannya sudah membaik.”
Aku pun hanya bisa bernapas lega akan keadaannya yang sudah membaik, meskipun aku sesungguhnya sangat khawatir dengan keadaannya sekarang.
Tiba-tiba saja ayahku masuk dari balik pintu, masuk kedalam kamarku yang sangat sederhana. Beliau mengajakku untuk pergi ke Sleman untuk berkunjung dengan teman dekatnya.
“Rizky, udahan dulu ya. Ayahku  ngajak pergi nih.”
Sebenarnya dalam hati aku masih ingin bertanya mengenai Awan lebih jauh. Aku ingin tahu bagaimana dia sekarang, apakah baik-baik saja, apakah dia pernah terkena masalah berat, dan kapan ujian yang mengganggu komunikasi kami berakhir.
***
Semakin hari komunikasi antara Rizky denganku semakin akrab. Kami sudah seperti teman sendiri yang mempunyai hobi sama, yaitu bercerita panjang lebar. Aku bahkan sampai tahu kapan saja dia tidur, yaitu sekitar menjelang dini hari sampai pukul lima pagi. Dia tidak akan pernah tidur siang kecuali bila dia merasa sangat capai. Kebiasaannya tersebut sangatlah berbeda dengan Awan yang sepanjang waktu luangnya dia gunakan untuk tidur dan tidur. Aku sendiri pun sering kesal dengan kebiasaannya karena kebiasaannya tersebut membuatku sulit menghubunginya, terutama jika aku merasa kesepian dan rindu akan celoteh lucunya.
Sore hari yang sepi ini membuatku merasa sangat jenuh. Sudah seharian semua hal yang aku lakukan sepertinya tidak ada yang berjalan dengan baik. Aku membutuh kabar dari Awan sekarang, meskipun itu berarti aku harus menghubungi Rizky. Kali ini aku akan menghubunginya langsung lewat telepon.
“Assalamualaikum Rizky…” Ku buka pembicaraan ini dengan hati-hati. Baru pertama ini aku menelepon Rizky.
“Emmttt.. Wa’alaikumsalam… Kenapa?”, jawab Rizky samar-samar.
Terdengar suara Rizky yang menandakan kalau dia baru saja terbangun. Kemungkinan dia sudah sepenuhnya sadar sangatlah kecil.
“Rizky tahu gak Awan sekarang lagi ngapain?”
Aku sudah sangat penasaran dengan kabar seseorang yang aku cintai itu. Meskipun jarak memisahkan, sampai sekarang aku belum pernah merasa bahwa rasa cinta ini akan berkurang. Mengingat kenanganku saat bersamanya dulu, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Berharap dia segera kembali ke sini, berjalan bersama di Jalan Mawar, berbicara bersama di Taman Mawar Merah, semua itu tidak pernah luput dalam setiap harapanku. Aku tahu aku terlihat bodoh, namun semua itu karena aku mencintainya. Mencintai orang yang mungkin memang sudah tepat bagiku.
“Hey, Rizky. Jangan tidur lagi. Awan lagi ngapain ini?”, kunaikkan nada bicaraku.
Aku segera mengulangi perkataanku karena aku takut kalau Rizky kembali tidur.
“Ini siapa ya?”
Sungguh keterlaluan, ternyata dia mengangkat tanpa melihat siapa yang menelponnya. Jika aku disana…
“Emmttt Awan tadi keluar ke Dago, dia lagi jalan sama Dina. Kalau mau datang cari dia, nanti malam saja. Aku mau tidur lagi. Bye.”
Buyar sudah semua lamunan manisku. Dada ini terasa sangat sesak dan sakit seperti ada kerikil yang memenuhi rongga dadaku. Aku berharap ini hanyalah sebuah ilusi suara. Akan tetapi dengan jelas suara tersebut terdengar, jelas bukan sebuah ilusi. Aku tidak percaya. Aku menghabiskan semua waktuku hanya untuk orang yang tidak mencintaiku lagi. Sungguh aku tidak akan menangisinya, aku tidak akan menangisinya! Aku tidak akan menangisinya!
“Aku gak akan sedih karena kamu Awan!!!", teriakku sekencang-kencangnya.
Langit-langit terlihat roboh dan semua menjadi gelap.
“Nada!!!”, terdengar suara dari balik pintu.
***
Aku sungguh kagum akan perasaanku sendiri. Begitu sakit luka yang tertoreh dalam hatiku, namun kuabaikan. Begitu pahit kenyataan yang kuterima, namun kubertahan.
Hari ini aku kembali dengan kicau burung yang terdengar riang, dengan sepoi angin yang lembut, serta rimbun pepohonan yang meneduhkan. Aku kembali melewati Jalan Mawar. Jalan yang menjadi saksi kenangan indahku bersama Awan. Jalan yang melihat betapa bahagianya diriku saat berjalan menuju ke rumah Awan. Jalan yang merasakan setiap getaran gairah saat diriku melihat senyuman Awan yang manis. Jalan yang menjadi penghubung bagi rasa rinduku untuk melepas rasa haus akan perhatian.
 Hari ini aku kembali mengitari Taman Mawar Merah. Taman yang setia menjadi pendengar saat aku dan Awan saling berdebat. Taman yang menjadi tujuan saat kami tak tahu mau kemana. Taman yang menjadi tempatku melepaskan rindu akan senyumnya, wajahnya, dan tingkah lucunya.
Aku masih disini. Aku masih mengharapkan langit kembali cerah. Mendung yang kelam itu berganti menjadi awan yang bersih, awan yang mampu menghiasi hari-hariku. Awan yang selalu kunantikan kedatangannya untuk meneduhkan hatiku. Tak akan kucabut rasa yang telah kugantung tinggi di awan putih.
Awan, aku masih di sini menunggumu…
*****

No comments:

Post a Comment