Beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa hewan pun tahu berobat tatkala sakit. Di pertengahan 1980an, observasi atas beberapa populasi simpanse di sekujur benua Afrika merekam beberapa kejadian di mana satu dua individu simpanse mengunyah jenis dedaunan yang tidak lumrah. Dedaunan ini biasanya punya rambut-rambut relatif panjang dan keras di permukaannya. Dalam kosakata botani, karakter sedemikian dikenal sebagai karakter hispid. Karakter hispid dari satu jenis tanaman layaknya membuat dedaunan tanaman bersangkutan tidak ideal sebagai makanan sesehari simpanse. Studi lebih lanjut menunjukkan bahwa perilaku memakan dedaunan yang tak lumrah ini rupa-rupanya punya korelasi dengan status kesehatan simpanse bersangkutan. Eksperimen empiris di kemudian hari menunjukkan bahwa simpanse dengan jumlah parasit tinggi di dalam sistem pencernaannya punya tendensi yang lebih tinggi untuk mencari dan mengunyah dedaunan dengan karakter hispid. Menariknya lagi, konsumsi dedaunan dengan karakter hispid ternyata berkorelasi dengan turunnya jumlah parasit dalam sistem pencernaan simpanse. Observasi lapangan sepanjang 1990an menunjukkan bahwa perilaku semacam ini cukup lumrah bukan hanya di kalangan simpanse, namun juga gorila dan makaka di berbagai lokasi terpisah di Afrika. Menariknya lagi, jenis tanaman yang jadi 'obat' andalah berbagai populasi terpisah ini berbeda-beda jenisnya, namun semua tanaman yang jadi 'obat' anti parasit punya karakter hispid (Huffman 1997).
Setelah observasi di populasi kera besar di atas, beberapa studi lain pun menunjukkan bahwa domba dengan infestasi parasit tinggi dalam tubuhnya lebih memilih makanan dengan kandungan tannin tinggi (Villaba et al. 2006). Tannin adalah senyawa kimia polifenol yang jamak ditemukan di berbagai tanaman. Rasa kecut yang terasa di lidah ketika mengecap buah yang belum matang, sering kali datang dari kandungan tannin tinggi dalam buah muda. Tannin punya kemampuan untuk menangkap dan mengisolasi protein. Selain itu, tannin juga dikenal sebagai senyawa anti-parasit alami.
Bahwa kera dan domba, dua binatang yang relatif dekat dengan manusia di jenjang evolusi, punya kemampuan untuk memilih makanan yang mampu mengobati penyakit yang tengah mereka derita saja sudah menarik. Namun dua tahun lalu, satu grup peneliti di Arizona, AS, menemukan bahwa perilaku berobat teryata terjadi juga di antara serangga (Singer et al. 2009).

Rupa-rupanya bukan hanya saya dan anda saja yang pergi mencari aspirin ketika sakit kepala, namun demikian juga simpanse, domba, serangga dan entah apa lagi di luar sana.
Referensi:
Huffman, M.A. 1997. Current Evidence for Self-Medication in Primates: A Multidisciplinary Perspective. Yearbook of Physical Anthropology 40:171–200.
Singer, M.C., K.C. Mace, E.A. Bernays. 2009. Self-Medication as Adaptive Plasticity: Increased Ingestion of Plant Toxins by Parasitized Caterpillars. PLoS ONE 4(3): e4796. doi:10.1371/journal.pone.0004796.
Villalba, J., M.D. Provenza, R. Shaw. 2006. Sheep self-medicate when challenged with illness-inducing foods. Animal Behavior 71: 1131-1139.
No comments:
Post a Comment