TRANSLATE THIS BLOG

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by Anang
Showing posts with label santai. Show all posts
Showing posts with label santai. Show all posts

Monday, July 14, 2014

Daerah Sekitar STIS

STIS merupakan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. *krik krik krik*
STIS merupakan sekolah kedinasan yang berada di Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur. STIS dikelilingi oleh tiga daerah yaitu Kebon Nanas Selatan (Bonasel), Kebon Nanas Utara (Bonasut), dan Kebon Sayur (Bonsay).
1.       Kebon Nanas Selatan
Bonasel merupakan daerah pemukiman warga yang berada di sebelah timur STIS. Untuk menuju daerah ini cukup dengan menyeberangi Jalan Raya Otista. Bonasel merupakan daerah yang paling banyak ditinggali mahasiswa STIS karena banyak terdapat kos terutama kontrakan mahasiswa di daerah ini. Kali Bening membagi Bonasel menjadi dua daerah yang kadang disebut daerah depan dan belakang Bonasel. Bonasel depan yang berada sebelum Kali Bening sifatnya lebih tenang dan mayoritas merupakan kos mahasiswi dan beberapa kontrakan. Bonasel belakang Kali Bening sifatnya lebih hidup karena adanya berbagai penjual jajanan di Jalan Bonasel I dimana sejajar dengan Kali Bening tetapi masuk daerah belakang. Bonasel belakang mayoritas kos/kontrakan mahasiswa. Bonasel terkenal dengan banyaknya pilihan makanan karena jumlah warung makan yang banyak dan beraneka macam. Kelemahannya kadang sering mati lampu karena perbaikan dan kalau hujan deras biasa Kali Beningnya meluap ke jalan.
Untuk menuju ke Bonasel, kita dari kampus harus menyeberang Jalan Otista Raya dan belok ke arah kanan/selatan. Untuk menuju ke daerah Bonasel belakang, jalan paling cepat dapat melalui Jalan Hasbi. DI jalan ini kebanyakan kos cewek dan ada yang namanya Kos Apartemen, dinamakan seperti itu lantaran bentuknya kotak dan berlantai empat seakan-akan sebuah apartemen tapi levelnya kos-kosan. Bonasel menjadi lingkungan yang ramai karena banyak kontrakan di daerah sini sehingga kalau ada suatu rapat atau kumpul-kumpul apa gitu biasanya pada kesini. Karena biasanya yang memiliki ruang tamu yang cukup luas itu bukanlah kos-kosan melainkan kontrakan. Itulah mengapa biasanya ada rapat di Bonasel.
Info penting tentang Bonasel :
·         Bonasel dibagi oleh Kali Bening menjadi Bonasel Belakang dan Bonasel Depan. Sepanjang aliran Kali itu kalau hujannya sangat deras biasanya meluap dan menggenang. Jadi kalau cari kos/kontrakan jangan yang dekat dengan Kali Bening.
·         Bonasel ada dua Indomart dan beberapa ATM seperti BCA dan Bank DKI (Indomart Otista 3, Bonasel), BNI (Bonasel Depan), BCA (Bonasel Depan), BRI (Depan GOR Gelanggang Remaja namun bukan derah Bonasel, tapi dekat dengan Bonasel).
·         Terdapat Gelanggang Remaja yang dilengkapi dengan lapangan Basket, Futsal, Voli, Badminton, Kolam Renang, dan Pnajat Tebing.
·         Terdapat bekas Gedung Perfilman yang digunakan untuk Lapangan Badminton (mungkin sekarang non aktif sementara).
·         Terdapat Taman Simanjuntak, satu-satunya taman di daerah Otista. Biasanya Mahasiswa STIS kalau lari pagi/sore ke sini.
·         Terdapat Pasar Sawo yang menyediakan peralatan rumah tangga dan alat+bahan masak.
·         Terdapat daerah jajanan di Jalan Bonasel 1.
·         Sering terjadi kemalingan kalau Bulan Ramadhan, dikarenakan perekonomian disini yang tidak merata.
·         Ada daerah yang aneh karena sering mati lampu pada momen tertentu, tapi cuman sederet saja. Yang disitu kebetulan hanya kos dan kontrakan mahasiswi.
·         Terdapat warteg yang menurut saya jumlahnya paling banyak diantara Bonasut dan Bonsay.
·         Banjir terjadi di sekitar pinggiran Kali Bening kalau hujan deras.
·         Ada dokter di Pasar Sawo dengan obat generik jadi lumayan murah.
·         Base Camp PMB Rohis STIS untuk Akhwat ada disini.

2.       Kebon Nanas Utara
Bonasut merupakan daerah di sebelah Timur STIS juga. Sebeanrnya di depan STIS ada Jalan Otista 3 yang membagi dua daerah. Daerah sebelah kanan jalan merupakan Bonasel dan kiri jalan merupakan Bonasut (sudut pandang dari kampus STIS). Bonasut relatif lebih sepi daripada Bonasel dimana bagian depan banyak kos mahasiswi dan bagian belakang banyak kos/kontrakan mahasiswa. Sekali lagi daerah ini juga dilewati oleh Kali Bening yang mengalir dari Selatan ke Utara. Bonasut ini mungkin karena suasananya sepi jadi ya begitulah :D
Bagusnya daerah ini kondisinya paling bersih dibandingkan Bonasel dan Bonasut meskipun suasananya yang sepi. Mungkin karena faktor tidak terlalu ramai, sehingga sampah pun juga relatif lebih sedikit. Dalam hal makanan, mungkin masih kalah dibandingkan Bonasel dan Bonsay.
Info penting tentang Bonasut :
·         Situasi yang paling sepi dibandingkan Bonasel dan Bonsay.
·         Bonasut Depan merupakan daerah yang bersih.
·         Terdapat Alfa Midi dan Alfamart.
·         Bila berjalan ke Utara terus akan menuju Kampung Melayu.
·         Dilalui oleh Kali Bening yang membagi Bonasut Depan dan Bonasut Belakang, daerah pinggiran jarang banjir kecuali memang hujannya parah (tidak sesering Bonasel).
·         Banyak kontrakan sehingga juga biasa menjadi tempat kumpul/rapat.
·         Terdapat ATM BNI, Mandiri, BCA (Alfamidi), BRI (Alfamart), BNI.
·         Ada warteg Barokah yang jual 24 jam tapi agak mahalan dikit.
·         Base Camp PMB Rohis STIS untuk Ikhwan ada disini.
3.       Kebon Sayur
Bonsay merupakan daerah di belakang kampus alias tidak perlu menyeberang kampus. Daerah ini berbatasan langsung dengan Kali Ciliwung dan terbagi menjadi dua daerah, yaitu Bonsay Atas dan Bonsay Bawah. Sekilas dari namanya dapat ditebak bahwa daerah Bonsay Bawah terkenal dengan “banjir Ciliwung tahunan”. Sehingga disarankan kalau dalam keadaan “bisa memilih”, pilihlah Bonsay Atas dibandingkan Bonsay Bawah. Bonsay Atas tentunya daerah paling dekat dengan kampus karena berbatasan langsung dengan kampus. Daerah Bonsay dan Bonasel banyak tersedia aneka makanan karena dipengaruhi oleh terdapatnya pasar tradisional di daerah ini. Daerah Bonsay hampir kebanyakan di dominasi oleh mahasiswi karena memang mahasiswi sukanya yang dekat jaraknya :p Akan tetapi bukan berarti di sini tidak ada kos/kontrakan mahasiswa. Saat ini malahan sedang banyak kos mahasiswa yang sedang dibangun dan jumlahnya pun banyak. Jadi penduduk Bonsay pun juga diperkirakan akan bertambah banyak. Apalagi kosnya masih baru sehingga suasananya lebih menyenangkan.
Info penting tentang Bonsay :
·         Kampus STIS dan SeVel (tempat nongkrong paling asyik) ada di daerah Bonsay Depan.
·         Ada Pasar Bonsay di belakang kampus tapi ada selisih Bangunan SD yang cukup besar.
·         Warteg disini relatif lebih mahal dibandingkan Bonasel maupun Bonasut, tapi enakkk, contohnya Warsun (Warung Sunda, eh gak jadi warteg dong namanya).
·         Daerah paling dekat dengan kampus dan satu-satunya daerah yang tidak perlu menyeberang untuk bisa ke kampus.
·         Daerah banjir tahunan bagi Bonsay Bawah/Belakang dan seluruh daerah di Gang Mangga dan Gang Asem (baik depan maupun belakang).
·         Termasuk ramai anak kecil seperti Bonasel.
·         Terdapat Apotik K24, Apotik IMPHI, Klinik Siaga Medika, Klinik Otista, dan lain-lain.
·         Berjalan ke Utara akan menuju ke Kampung Melayu.
·         Kebanyakan di daerah ini merupakan kos-kosan.
·         Terdapat Indomart di dekat Gang Asem. Ada ATM BRI(kampus) dan Mandiri.
·         Jalannya Naik Turun makanya ada Bonsay Atas dan Bonsay Bawah.

Keputusan mengenai lebih baik yang mana pertimbangkan dengan matang, baik dengan orang tua maupun kenalan di STIS.

Sekian dan terima kasih, semoga dapat membantu. Mungkin banyak yang tidak sempat diceritakan. Oleh karena itu bisa ditanyakan ke contact di bagian kiri blog ini. Thx

Sunday, January 26, 2014

Multiplier Effect



“Teetttt... Teetttt...”
Jam pertama sekolah telah dimulai dan Donny dengan santainya memasuki ruangan bersama sahabat karibnya Ichsan. Mereka berdua kemana pun selalu bersama dari SD sampai sekarang. Mereka berdua merupakan sahabat karib yang tak terpisahkan.
“Don, gimana kabarnya Santi?”, tanya Ichsan dengan raut muka penasaran.
“Kabar gimana nih maksudnya? Aku sama Santi baik-baik aja kok. Tapi...”
Donny segera mencari tempat duduk paling belakang bersama Ichsan agar dapat saling bercerita. Meja paling belakang merupakan tempat paling aman untuk bercerita, menghindari pengawasan dari pengajar.
“Jangan bilang siapa-siapa ya San. Aku itu merasa kurang enak nih sama Santi. Rasanya pengen cari yang baru nih...”, bisik Donny.
“Eh apa-apaan kamu? Kan baru juga dua minggu pacaran, masak mau cari cewek baru? Apa yang kurang dari Santi sih? Dia baik, cantik, putih pula.”, gerutu Ichsan dengan nada kesal.
“Tapi dia pendek. Aku pengen cari yang lebih baik. Aku pengen cari yang tinggi aja deh. Aku pengen cari yang tingginya mirip sama aku.”, jawab Donny.
“Ah parah kamu Don. Aku ngikut aja deh. Yang penting sahabatku senang.”, jawab Ichsan sambil menepuk pundak Donny.
"Wuih, bijak benerrr... Sudah, perhatiin dulu tuh pelajarannya. Sekarang ekonomi ya??? Jadi males nih...", gerutu Donny.
"Ini penting lho, bab Multiplier Effect. Meskipun ini sederhana, ini bisa terjadi di kehidupan sehari-hari lho.", jelas Ichsan.
"Oke deh. Tapi aku gak percaya tuh...", balas Donny dengan ejekan.
***
“Hey Don!!!”, teriak Ichsan dari kejauhan.
Ichsan yang baru pulang dari bermain futsal bertemu Donny di warung soto Bu Lasmi. Raut muka Donny mendadak berubah menjadi cerah. Donny memang sudah menunggu sahabatnya itu untuk dia ajak bercerita.
“San, duduk sini deh. Aku mau ngomong sesuatu.”, seru Donny dengan senyum lebar.
“Ngomong apa sih Don pake sesuatu-sesuatu segala?”, jawab Ichsan sambil memutar matanya.
“Gini San, aku kemarin baru aja jadian sama Tika lho anak SMA sebelah. Dia itu udah sesuai dengan keinginanku nih, tinggi!”, jawab Donny dengan berseri-seri.
“Waduh! Gimana nasibnya Santi tuh? Kamu putus gitu aja?”
Ichsan pun memandang Donny dengan muka berkerut. Dia merasa agak kesal sebenarnya dengan kelakuan Donny yang terlalu ambisius dalam mendapatkan sosok pasangan hidup yang sempurna. Donny memang dianugerahi ketampanan sejak lahir serta berasal dari keluarga terpandang. Donny selalu berusaha mencari pasangan yang pantas dengan dirinya yang tampan dan hampir sempurna itu.
“Tenang San, Santi tetep jadi pacarku kok. Aku belum berani buat mutusin dia. Lagipula aku sebenarnya juga masih menyukainya.”, jawab Donny dengan santai.
“Dasar Donny!”
Semoga kamu segera sadar Don akan apa yang kamu lakukan, bisik Ichsan dalam hatinya.
***
Minggu ini Donny memutuskan menghabiskan pagi harinya dengan lari pagi. Dia berharap dapat menghilangkan segala penat yang dia rasakan selama seminggu terakhir. Apalagi dia harus berpikir keras agar Santi dan Tika tidak saling mengetahui, termasuk teman-teman mereka juga. Kali ini seperti biasa, dia mengajak Ichsan tentunya untuk lari bersama. Mereka merupakan sahabat yang cocok karena Donny yang suka bercerita dan cerewet mempunyai sahabat seperti Ichsan yang pendiam dan pendengar setia.
“San, aku pusing nih memikirkan mereka berdua.”, gerutu Donny kepada Ichsan.
“Mereka siapa? Santi sama Tika? Kamu sih pacar aja dua amat. Satu aja gak habis-habis.”
“Tapi San...”
Jawaban Donny pun terhenti saat melihat sosok perempuan yang melewati mereka berdua. Tampak perempuan itu berlari dengan riang bersama teman-temannya. Senyumnya yang manis menggoda hati Donny seketika itu juga.
“Eh San, kamu kenal gak cewek yang lewat tadi? Yang pakai baju biru tadi itu lho...”, tanya Donny penasaran.
“Oh dia itu Lina. Dia itu adek kelas kita. Dia itu anaknya cantik, manis, dan tinggi pula. Senyumnya itu sangat menawan hingga bisa meluluhkan hati. Matanya itu bisa menggetarkan langkah ketika ingin mendekatinya. Dan, sosoknya terasa begitu hangat serasa ingin bisa duduk ngobrol dengan dirinya.”, jelas Ichsan dengan panjang lebar.
“Wah begitu ya San. Keren banget ya dia.”, jawab Donny dengan senyuman khasnya.
***
“San!!!”, teriak Donny untuk memecah lamunan Ichsan.
“Iya, ada apa...”, jawab Ichsan dengan malas.
“Kamu kenapa San kok lemas begitu? Aku ada kabar baik nih!”, balas Donny dengan tawa yang kontras dengan kondisi Ichsan.
“Perempuan yang kusuka sekarang mengacuhkanku. Kabar baik apa Don?”, tanya Ichsan dengan malas.
“Sabar ya San... Gini lho! Aku udah jadian sama Lina lho... Sumpah! Aku seneng banget lebih dari saat aku jadian sama Santi dan Tika!”
“Lalu bagaimana dengan Santi dan Tika?”, tanya Ichsan dengan raut muka yang berbeda.
“Mereka tetep jadi pacarku lah... Hahaha”, tawa Donny.
***
"Dringgg..."
Donny kemudian membuka handphonenya. Pagi ini tidak seperti biasa, fajar belum menyingsing pun sudah ada sms masuk.
"Dasar kamu playboy kurang ajar! Kita putus!", sms dari Santi.
"Dringgg..."
"Dasar kamu tak tahu malu! Gak punya hati! Kita putus!", sms dari Tika.
Donny pun bingung mengapa kedua pacarnya tersebut tiba-tiba memutuskan hubungan dengan dirinya.
"Dringgg..."
"Sayang, nanti siang kita jalan yuk ke Taman Hijau. Aku udah kangen banget nih gak lihat wajahmu yang tampan. Besok, aku mau ngasih hadiah spesial buat kekasihku tersayang nih. Datang ya, muacchh.", sms dari Lina.
Di saat kesal melanda hatinya, Donny pun terhibur dengan sms dari pacar barunya tersebut. Segala hal tentang Santi dan Tika pun dia lupakan dengan mudahnya, tidak peduli dengan perasaan mereka. Donny telah merasa menemukan teman hidupnya yang sebenarnya.
***
"Donny sayang!!!", teriak Lina dari kejauhan.
"Iya Lina sayang, jangan teriak-teriak gitu dong. Aku jadi agak malu nih... Eh, mau ngasih hadiah apa nih?", tanya Donny penasaran.
"Aku mau... Mencium pipi kamu... Boleh gak? Akhir-akhir ini aku selalu memikirkanmu. Aku terlalu jatuh cinta sama kamu. Aku berharap dengan mencium pipimu, kita gak akan pernah terpisahkan lagi.", ucap Lina dengan hati-hati.
"Ya tentunya boleh dong! Jadi gak enak nih, eh maksudnya jadi enak nih... hehehe...", canda Donny.
"Tutup mata dulu dong... Aku malu nih kalau mau mencium sayang tapi dilihatin.", rengek Lina.
Segera Donny dengan senangnya menutup matanya. Dia sangat senang bisa mendapatkan Lina sebagai kekasihnya. Dia benar-benar jatuh cinta kepadanya. Dia...
"Bruukkk!!!"
Muka Donny tiba-tiba terkena tepung dan telur mentah dalam jumlah besar. Tidak hanya muka, bahkan seluruh badan Donny kotor dan berbau amis. Lalu, tiba-tiba ada seseorang yang datang kepadanya dan mengalunginya dengan papan bertuliskan AKU PLAYBOY KAMPUNGAN YANG TAK TAHU DIRI.
Donny tidak dapat melihat jelas siapa orang itu. Apa mungkin itu Lina? Atau mungkin Tika dan Santi yang marah?
Lalu seseorang itu kembali padanya.
"Dasar kamu sahabat tak tahu diri, tidak mengerti keadaan sahabatmu yang dari dulu sering membantumu."
Itu jelas sekali suara Ichsan. Ichsan, mengapa dia begitu? Donny terlalu pusing dan ketika ada telur yang menghinggapi tubuhnya lagi, dia tersadar...
---Oh dia itu Lina. Dia itu adek kelas kita. Dia itu anaknya cantik, manis, dan tinggi pula. Senyumnya itu sangat menawan hingga bisa meluluhkan hati. Matanya itu bisa menggetarkan langkah ketika ingin mendekatinya. Dan, sosoknya terasa begitu hangat serasa ingin bisa duduk ngobrol dengan dirinya.---
---Perempuan yang kusuka sekarang mengacuhkanku---
Donny baru tersadar bahwa Ichsan sebenarnya menyukai Lina. Dia tidak tahu kalau ternyata kebiasaannya mencari wanita telah mengorbankan sahabatnya sendiri. Apa jangan-jangan semua ini ulah Ichsan?
Mungkin ini yang dinamakan multiplier effect, suatu hal yang terjadi tidak akan semata-mata terhenti saat itu juga. Hal itu akan memberikan efek terhadap hal lain yang bisa saja berdampak lebih besar pada sumbernya.

Awan



Rintik hujan di luar terdengar begitu sendu dengan temaram lampu kamar yang tidak begitu terang. Suasana sepi membuat pikiran meracau untuk mencari hiburan di luar. Akan tetapi tubuh ini terlalu capai untuk keluar, berharap akan ada hiburan yang datang. Tiada henti-hentinya diriku menengok handphone jadul ini dan berharap akan ada sms masuk, terutama sms dari Awan yang tak kunjung datang.
“Dring…”
Segera aku ambil handphoneku dengan cepat yang sedari tadi menganggur di samping kasurku. Dengan cermat, diriku membaca sms tersebut. Setiap kata yang terbaca, aku maknai dengan dalam. Tetapi nyatanya, sms itu datangnya dari operator yang kian menambah kesedihanku. Aku kembali membaringkan badanku ke kasur yang setia menemani kegundahan malam-malamku selama lima tahun terakhir.
“Ting tung ting ting…” Tanpa melihat layar handphoneku, aku yakin kalau kali ini Awan yang menelponku, orang yang kabarnya selalu kunantikan.
“Wan, kamu tahu gak sih aku tuh sedih kamu cuekin terus seharian. Kemana aja sih kamu?”, tanyaku dengan cepat.
Kupeluk bantalku sambil berceloteh, berharap dia akan kesal denganku dan menunjukkan ekspresi imutnya meskipun hanya lewat suara.
“Aduh, Nada.. Apa-apaan sih? Ini Mama, bukan Awan. Mama cuman mau ngasih tahu kalau nanti mama sama papa mau pergi keluar kota selama tiga hari. Jangan lupa rumahnya dibersihkan setiap hari ya sayang.”
Mendengar suara yang jauh dari harapan tersebut membuat diriku kecewa. Aku merasa semakin sepi dengan kesendirianku di rumah yang sederhana ini.
“Iya Ma. Jangan lupa oleh-olehnya ya. Hati-hati di jalan Ma.”, jawabku dengan nada data.
Aku akhiri percakapan ini dengan membalikkan badanku, berharap aku akan tertidur pulas.
“Dimana kamu Awanku? Mengapa sekarang kamu menjadi mendung yang selalu membuatku sedih?”
***
Suara burung yang bersahutan, semilir angin segar, dan rimbun hijau pepohonan dengan ramah ikut mengantarku ke sekolah. Setelah sampai di depan gerbang SMA Negeri Sederhana, aku segera memasuki kelas XII-IPA 3. Di tengah suasana riuh kelas, tiba-tiba aku melihat guruku datang dengan seorang pemuda asing.
“Eh Indah, siapa tuh cowok? Anaknya Bu Risni ya?” Aku berbisik-bisik dengan teman semejaku sambil terus mengamati setiap gerik-gerik pemuda tersebut.
Bu Risni kemudian masuk dan berdiri di depan kelas ditemani oleh pemuda tersebut.
“Anak-anak, ini ada siswa baru pindahan dari Tempelan.”
“Perkenalkan nama saya Awan, saya cowok tulen, sudah?”, jawabnya dengan senyuman lebar.
Kata-kata Awan barusan membuat seluruh kelas, termasuk aku, tertawa terbahak-bahak. Postur tubuhnya yang sedang dan pipinya yang tembem, membuat setiap tingkahnya semakin lucu.
Awan akhirnya mendapatkan tempat duduk di sebelah mejaku. Aku yang terkesan dengan selera humornya tanpa sadar berbuat hal yang memalukan.
“Hai Awan, namaku Nada. Sumpah, tadi kamu lucu banget!”
Seketika diriku sadar jika aku seperti gadis lajang yang suka memperkenalkan diri, memang aku lajang, tetapi…
***
Semakin hari rasanya aku dan Awan semakin dekat. Aku yang tadinya selalu berangkat sekolah lewat Jalan Kamboja, sekarang berpindah jalur ke Jalan Mawar agar bisa berangkat bersama Awan yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Aku suka saat dia segera menghampiriku di saat aku melewati rumahnya. Aku suka dengan senyuman lebarnya yang menandakan betapa senangnya dia melihatku. Aku suka dengan gayanya yang lucu, pipinya yang tembem, dan matanya yang bulat. Aku suka bagaimana dia perhatian padaku, bagaimana tingkahnya saat dia merasa malu padaku, dan pandangan sedihnya di saat aku merasa kesulitan. Aku merasa…
“Dring…”
Bunyi sms masuk menghancurkan lamunanku. Aku baru sadar kalau aku harus segera pergi ke sekolah untuk mendekorasi panggung acara wisuda. Aku merasa sangat senang karena angkatanku berhasil lulus dari Ujian Nasional yang mengerikan.
Sesaat aku melangkahkan kaki di depan rumahku, aku merasa ada linangan air mata yang menggantung, mengalir pelan di pipiku. Entah mengapa, aku merasa sangat sedih ketika melewati Jalan Mawar. Aku merasa sesak, terasa ada gumpalan emosi yang memenuhi rongga dadaku. Aku takut kehilangan Awan. Seseorang yang baru kukenal setahun namun sangat berarti dalam hidupku. Meskipun kami sepakat tidak akan pacaran, akan tetapi bukan itu yang membuatku sedih. Terendap rasa takut dalam setiap langkah ini.
“Nada, ayo cepat ke sini! Aku butuh bantuanmu sekarang.”
Indah yang merupakan sahabat karibku segera menarikku untuk mendekorasi panggung. Aku yakin akan ada hari yang lebih indah setelah acara wisuda nantinya.
***
Seharian aku duduk di depan komputerku, berharap akan ada berita bahwa pengumuman SBMPTN telah dipublikasikan. Waktu demi waktu kuhabiskan dengan mengawasi Facebook dan memakan cemilan yang berserakan di sekitar meja komputerku. Perasaan gelisah dan khawatir memaksaku untuk memakan segala jenis makanan yang ada, mengacuhkan program dietku yang sudah berjalan selama tiga bulan.
“Ting tung ting ting…” Segera kuambil handphoneku dan kulihat ada nama Awan di layar handphoneku.
“Assalamu’alaikum… Apa apaan nih tiba-tiba nelpon? Kangen aku ya?”
Kulirik jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore sambil meringis akan kata-kataku barusan.
“Wa’alaikumsalam... Iya nih kangen, sudah tiga hari kita gak ketemuan. Kamu belum jadi beruang kan?”
Terdengar tawa kecil Awan dari handphoneku. Tanpa dia sadari, sebenarnya selama tiga hari tersebut aku merasa sangat gelisah memikirkannya. Bagaimana jika nanti kami tidak satu universitas, bagaimana jika nanti kami jarang berjumpa, dan bagaimana jika nanti kami semakin renggang. Laki-laki memang makhluk yang paling tidak sensitif dan berpikiran pendek!
“Halo… Nada, kenapa kok bisik-bisik? Aku gak denger nih.” Suara kebingungannya yang lucu kembali mengembangkan senyumanku.
“Ih pengen tahu aja nih. Makanya jangan di rumah aja, sesekali main ke rumahku dong”
Awan memang seorang anak rumahan. Dia tidak pernah bermain jauh dari rumahnya kecuali untuk sekolah.
“Ah nggak mau ah” Sesaat pembicaraan berhenti sejenak.
 “Aku takut nih sama mama kamu. Eh, pengumuman SBMPTN sudah terbit lho, coba deh buka websitenya. Aku akhirnya berhasil masuk jurusan Teknik Geologi ITB nih. Kamu gimana? Masuk ITB juga kan?”
Segera kubuka website SBMPTN dan memasukkan identitas diriku.
Nada Lily Sukmawati – FMIPA-Matematika Murni – UGM
Rasa sedih pun tak terbendungkan. Segera kubuang handphoneku dan menangis di balik bantal. Aku sedih karena gagal masuk jurusan Teknik Kimia ITB. Aku sedih tidak bisa bersama Awan pergi keluar melintasi Yogyakarta, tempatku dan Awan tinggal. Aku mengutuk diriku sendiri yang gagal lolos SBMPTN di pilihan pertama. Aku mengutuk diriku yang bermalas-malasan saat belajar. Aku mengutuk diriku yang terlalu mencintai Awan, yang membuatku tidak mampu jauh darinya.
***
Pagi ini tidak secerah pagi sebelumnya. Mungkin bagi orang lain sama saja, namun tidak bagiku. Hari ini aku akan pergi ke Taman Mawar Merah. Sesuai dengan namanya, taman yang berada di Jalan Mawar tersebut ditumbuhi banyak tanaman mawar merah. Aku memakai kaos merah muda dengan kardigan abu-abu pemberian Awan. Jeans biru dan sneakers abu-abu menyempurnakan penampilanku saat ini. Aku telah menyiapkan diriku sesempurna mungkin. Kupasang senyuman terindahku sambil melangkah menuju taman tersebut.
Hari ini Awan tidak berpakaian seperti biasanya. Kali ini dia menggunakan kemeja biru tua kasual dan jeans hitam. Ditambah dengan sepatu Kickers coklat gelap yang membuat dirinya menjadi lebih tampan daripada biasanya. Rambutnya yang biasanya berantakan, sekarang terlihat rapi. Kulihat wajahnya yang berpendar cahaya hangat, terasa ada sengatan cinta yang lebih kuat. Senyumnya yang khas dengan wajah bulatnya yang lucu membuat diriku benci pada kenyataan ini.
Hari ini merupakan hari terakhir Awan di sini, sebelum akhirnya dia harus pergi ke Bandung untuk kuliah. Kami terus berbicara ini dan itu sambil tertawa. Kami tidak ingin merusak hari ini dengan kesedihan. Akan tetapi, aku harus mengutarakan isi hatiku sebelum aku kehilangan kesempatan itu. Sudah tidak ada waktu lagi untuk menunda.
“Wan, aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu.” Aku remas dengan erat tas yang aku bawa. Aku merasa sangat gugup untuk mengatakan hal seperti ini.
“Kenapa Na? Ngomong saja, kayak orang gak kenal saja.” Wajah innocent Awan semakin membuatku bingung bagaimana mengucapkannya. Aku sungguh bingung. Aku lihat sekitar taman ini, berharap ada ide yang keluar dan…
“Begini, aku mau cerita. Ada orang namanya A dan B. Mereka itu sangat dekat dan mereka suka satu sama lain meskipun nggak pacaran. Si A ini merasa takut karena si B akan pergi ke tempat yang jauh. Dalam hati si A, dia ingin membuat janji dengan B. A ingin kedua belah pihak selalu memberikan kabar agar hubungan mereka tetap jelas. Apabila ada salah satu pihak yang kemudian suka dengan orang lain, maka dia harus memberitahu pihak satunya agar tidak terjadi penantian yang sia-sia. Menurut kamu Wan, si B itu mau gak ya janji seperti itu?”, tanyaku sambil memperhatikan wajah Awan.
“Tentu saja si B mau. Si B bakalan sms dan telpon si A terus setiap hari. Si B tidak mungkin bisa meninggalkan si A tanpa tahu kabar apapun tentangnya. Si B pasti akan sangat takut jika terjadi sesuatu dengan si A… Nada, aku gak mau kehilangan kamu...”
Awan kemudian menatapku dengan dalam, matanya yang jernih dan wajahnya yang lucu membuatku selalu ingin memeluknya. Tidak pernah aku merasa sangat sedih seperti ini, ditinggalkan oleh kekasih hati. Ingin rasanya waktu sejenak berhenti,. Bersama di taman ini, saling bercerita tiada henti. Merasakan hangat senyumnya yang meneduhkan hati, seakan semua masalah ini tidak pernah ada. Aku pasti akan selalu merindukannya…
***
Tidak terasa hari ini sudah memasuki hari pertama di bulan Desember. Musim hujan membuat hari-hariku semakin bertambah kelam. Setiap aku menatap langit, sudah tidak ada lagi gumpalan awan yang menghias langit dengan warna putih sucinya. Awan telah tergantikan oleh mendung yang gelap dan kelam, seakan pembawa berita buruk dari langit.
Sudah seminggu Awan tidak memberi kabar. Seminggu yang lalu Awan berpesan bahwa dia akan menonaktifkan handphonenya sementara karena akan ada ujian tengah semester. Hidup terasa begitu hambar. Sudah lama aku tidak melihat senyumnya yang menggemaskan dan perhatian ringannya yang menghibur. Meskipun sebenarnya dia agak kaku, dia merupakan orang terlucu yang pernah aku kenal sekaligus pisau yang siap menikam hatiku kapan saja.
“Dring… Dring… Dring…” Tiba-tiba saja ada tiga sms yang masuk bersamaan. Perasaan aneh tiba-tiba saja muncul dari benakku. Aku baca satu per satu dari setiap sms yang masuk. Sms tersebut berasal dari nomor yang tidak dikenal. Pengirim sms tersebut seakan sudah mengetahui siapa aku meskipun aku belum pernah mengenalnya.
“Halo Nada, aku Rizky. Aku cuman pengen kenal kamu saja. Tapi aku sudah cukup tahu kok tentang kamu, paling kamunya saja yang belum kenal sama aku.”
Sms yang cukup mencurigakan bagiku. Rasanya seperti ada yang ingin mencoba mengerjaiku akan tetapi ulang tahunku sudah lewat. Aku tanggapi saja setiap sms yang dia kirim secukupnya.
“Oh iya aku lupa. Aku itu sahabatnya Awan, aku tahu kamu karena aku orangnya suka penasaran. Aku suka mencari tahu apa saja mengenai orang itu dengan banyak cara. Bisa dibilang kepo kalau bahasa gaulnya.”
Sms ini membuatku sangat terkejut. Aku tidak menyangka bahwa malah sahabatnya Awan yang menghubungi aku. Aku yang sudah sangat merindukan Awan pun segera menanyakan kabarnya.
“Rizky, gimana kabarnya Awan?”
Secepat kilat kuketik tombol handphoneku. Kutunggu dengan rasa penuh penasaran akan kabarnya.
“Ohhh, si Awan baik-baik saja kok. Kemarin dia sempat frustasi karena kesalahan kecilnya. Aku kasihan dengan dirinya yang depresi karena masalah kecil waktu ujian. Aku sangat sedih akan keadaannya kemarin. Tapi tenang, sekarang keadaannya sudah membaik.”
Aku pun hanya bisa bernapas lega akan keadaannya yang sudah membaik, meskipun aku sesungguhnya sangat khawatir dengan keadaannya sekarang.
Tiba-tiba saja ayahku masuk dari balik pintu, masuk kedalam kamarku yang sangat sederhana. Beliau mengajakku untuk pergi ke Sleman untuk berkunjung dengan teman dekatnya.
“Rizky, udahan dulu ya. Ayahku  ngajak pergi nih.”
Sebenarnya dalam hati aku masih ingin bertanya mengenai Awan lebih jauh. Aku ingin tahu bagaimana dia sekarang, apakah baik-baik saja, apakah dia pernah terkena masalah berat, dan kapan ujian yang mengganggu komunikasi kami berakhir.
***
Semakin hari komunikasi antara Rizky denganku semakin akrab. Kami sudah seperti teman sendiri yang mempunyai hobi sama, yaitu bercerita panjang lebar. Aku bahkan sampai tahu kapan saja dia tidur, yaitu sekitar menjelang dini hari sampai pukul lima pagi. Dia tidak akan pernah tidur siang kecuali bila dia merasa sangat capai. Kebiasaannya tersebut sangatlah berbeda dengan Awan yang sepanjang waktu luangnya dia gunakan untuk tidur dan tidur. Aku sendiri pun sering kesal dengan kebiasaannya karena kebiasaannya tersebut membuatku sulit menghubunginya, terutama jika aku merasa kesepian dan rindu akan celoteh lucunya.
Sore hari yang sepi ini membuatku merasa sangat jenuh. Sudah seharian semua hal yang aku lakukan sepertinya tidak ada yang berjalan dengan baik. Aku membutuh kabar dari Awan sekarang, meskipun itu berarti aku harus menghubungi Rizky. Kali ini aku akan menghubunginya langsung lewat telepon.
“Assalamualaikum Rizky…” Ku buka pembicaraan ini dengan hati-hati. Baru pertama ini aku menelepon Rizky.
“Emmttt.. Wa’alaikumsalam… Kenapa?”, jawab Rizky samar-samar.
Terdengar suara Rizky yang menandakan kalau dia baru saja terbangun. Kemungkinan dia sudah sepenuhnya sadar sangatlah kecil.
“Rizky tahu gak Awan sekarang lagi ngapain?”
Aku sudah sangat penasaran dengan kabar seseorang yang aku cintai itu. Meskipun jarak memisahkan, sampai sekarang aku belum pernah merasa bahwa rasa cinta ini akan berkurang. Mengingat kenanganku saat bersamanya dulu, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Berharap dia segera kembali ke sini, berjalan bersama di Jalan Mawar, berbicara bersama di Taman Mawar Merah, semua itu tidak pernah luput dalam setiap harapanku. Aku tahu aku terlihat bodoh, namun semua itu karena aku mencintainya. Mencintai orang yang mungkin memang sudah tepat bagiku.
“Hey, Rizky. Jangan tidur lagi. Awan lagi ngapain ini?”, kunaikkan nada bicaraku.
Aku segera mengulangi perkataanku karena aku takut kalau Rizky kembali tidur.
“Ini siapa ya?”
Sungguh keterlaluan, ternyata dia mengangkat tanpa melihat siapa yang menelponnya. Jika aku disana…
“Emmttt Awan tadi keluar ke Dago, dia lagi jalan sama Dina. Kalau mau datang cari dia, nanti malam saja. Aku mau tidur lagi. Bye.”
Buyar sudah semua lamunan manisku. Dada ini terasa sangat sesak dan sakit seperti ada kerikil yang memenuhi rongga dadaku. Aku berharap ini hanyalah sebuah ilusi suara. Akan tetapi dengan jelas suara tersebut terdengar, jelas bukan sebuah ilusi. Aku tidak percaya. Aku menghabiskan semua waktuku hanya untuk orang yang tidak mencintaiku lagi. Sungguh aku tidak akan menangisinya, aku tidak akan menangisinya! Aku tidak akan menangisinya!
“Aku gak akan sedih karena kamu Awan!!!", teriakku sekencang-kencangnya.
Langit-langit terlihat roboh dan semua menjadi gelap.
“Nada!!!”, terdengar suara dari balik pintu.
***
Aku sungguh kagum akan perasaanku sendiri. Begitu sakit luka yang tertoreh dalam hatiku, namun kuabaikan. Begitu pahit kenyataan yang kuterima, namun kubertahan.
Hari ini aku kembali dengan kicau burung yang terdengar riang, dengan sepoi angin yang lembut, serta rimbun pepohonan yang meneduhkan. Aku kembali melewati Jalan Mawar. Jalan yang menjadi saksi kenangan indahku bersama Awan. Jalan yang melihat betapa bahagianya diriku saat berjalan menuju ke rumah Awan. Jalan yang merasakan setiap getaran gairah saat diriku melihat senyuman Awan yang manis. Jalan yang menjadi penghubung bagi rasa rinduku untuk melepas rasa haus akan perhatian.
 Hari ini aku kembali mengitari Taman Mawar Merah. Taman yang setia menjadi pendengar saat aku dan Awan saling berdebat. Taman yang menjadi tujuan saat kami tak tahu mau kemana. Taman yang menjadi tempatku melepaskan rindu akan senyumnya, wajahnya, dan tingkah lucunya.
Aku masih disini. Aku masih mengharapkan langit kembali cerah. Mendung yang kelam itu berganti menjadi awan yang bersih, awan yang mampu menghiasi hari-hariku. Awan yang selalu kunantikan kedatangannya untuk meneduhkan hatiku. Tak akan kucabut rasa yang telah kugantung tinggi di awan putih.
Awan, aku masih di sini menunggumu…
*****

Sunday, December 29, 2013

Lil' Morning

Morning everyone
Morning to you dear
Morning to my friends
Morning to my family

Morning to this world
Morning who love me
Morning who leave me
Morning to you dear

Ini lagu yg dibuat dalam waktu 15 menit dan dibuat sebelum imsak puasa Ramadhan terdengar... :D Untuk teman2 sekalian untuk menanti fajar muncul bersama...

Friday, November 15, 2013

Treasure of Light




Temaram api membayang memaksa lensa mata untuk beradaptasi dengan keadaan. Tangan bergetar meraba setiap relief mencari topangan untuk berdiri. Selagi membersihkan debu yang mendekap dengan kuatnya, Ciel menguatkan topangannya.
“Apa yang sebenarnya barusan terjadi? Sepertinya aku terjatuh pingsan karena cahaya tadi.”, sambil mengamati keadaan sekitar yang hancur dan terbakar seperti meteor dalam legenda Gods’ Treason. Mendadak terasa aura tekanan yang daritadi sebenarnya terasa samar-samar, akan tetapi ini jelas nyata.
“Siapa disana! Keluarlah dan hadapi aku dalam Fiducia Dimension. Aku tahu daritadi kau mengikuti diriku pengecut!”
Suara Ciel hanya membentur alam, menggaung tiada balasan. Sepi, sunyi, dan tidak menampakkan apapun. Ciel mulai menarik belati untuk berjaga dari serangan tiba-tiba mengingat akhir-akhir ini banyak kejahatan yang sedang terjadi di desa Villant.
Mendadak angin bergemuruh, terlihat jejak bayangan yang cepat, hampir bersatu dengan gelapnya malam hingga akhirnya semua kembali tenang. Tampaklah seorang perempuan cantik yang memakai jubah berwarna biru safir dengan bulu yang sangat tebal dan pedang yang memiliki sarung bermata Truth Stone, pertanda bahwa dia bukan orang sembarangan. Tingginya hampir setara dengan mata yang menghias seakan mampu merasuki setiap jiwa perjaka. Wajahnya yang manis dan...
“Siapa kamu? Mau apa kamu mengikuti aku?”, tanya Ciel mencoba mengembalikan kewaspadaannya.
“Aku Scintilla Spada, kamu bisa memanggilku Tila. Maaf bila aku membuatku merasa terancam. Aku hanya ingin berteman denganmu. Aku tahu tujuan kita sama. Aku ingin bersama denganmu.”
 Kata-katanya seakan hipnotis dari penyihir Doroth yang melegenda, merasuk menggetarkan hati. Ciel mengamati keindahan yang tampak mendekati sempurna ditambah dengan pedang yang...
“Tunggu dulu! Aku tidak mengenalmu dan tiba-tiba kamu ingin berteman denganku. Kamu memiliki pedang yang langka dan kuat. Apa sebenarnya maksud dan tujuanmu?”
Dia pun kemudian maju selangkah demi selangkah, mendekat tanpa memiliki rasa takut sedikitpun.
“Aku sungguh memerlukan bantuanmu. Aku tidak yakin harus bagaimana. Hanya dengan pedang ini, tak mungkin aku sanggup menggapai keinginanku menghancurkan Figlio Di Inferno!”
Kalimat terakhirnya terucap tepat saat dia berada didepan batang hidup Ciel. Ciel pun luluh, teringat saat kehilangan semuanya, saat monster jahannam itu menghancurkan Bezarius Wall, tempat desa kelahirannya berada. Sesaat kemudian dia memeluk erat Tila agar dapat menumpahkan segala pedih yang tertumpuk belasan tahun lamanya. Saat Ciel mulai memejamkan mata mengistirahatkan sejenak menenggelamkan diri pada nostalgia akan keluarga, mendadak datanglah sekelompok orang asing.
“Siapa kalian!”, sembari membatasi tatapan mereka terhadap Tila yang masih bersedih.
“Aku tidak mencarimu anak muda. Aku hanya menginginkan perempuan muda yang ada dibelakangmu itu untuk diserahkan kepada Figlio Di Inferno untuk dijadikan sebagai pelacurnya.”, jawab 3 orang sembari tertawa hingga mengguncang jubah baja yang mereka pakai.
“Aku tidak akan membiarkan tindakan kalian penjahat! Fiducia Regret!”
Dimensi pun bergetar, terpanggil akan darah yang akan tumpah mengalir dari salah satu pihak. Ciel pun mengeluarkan belati rahasia yang jarang dia gunakan selama mengembara kecuali ada penjahat yang dianggapnya cukup kuat. Nampak aurora memancar dari belati itu, menampakkan adanya kekuatan yang terkubur didalamnya. Belati itu semakin memancarkan gurat hijau yang mengukir setiap sudut belatinya, mengubah bentuknya menjadi sesuatu yang aneh, bukan sebuah belati biasa. Ujungnya runcing dengan punggung melengkung dan terpotong seakan sirip naga utara dan sebaliknya seperti gigi naga selatan.
“Hah! Singkirkan saja mainanmu daripada harus mati melawan prajurit tangguh seperti kami ini sebelum kepalamu terpenggal.”, jawab salah seorang dari mereka dengan menampakkan kapak dan perisai besar mereka.
“Kalian lah yang akan terdiam dan malu harus memakai jubah prajurit seperti itu.”
Peperangan pun dimulai. Para prajurit tersebut menyerang dari 3 penjuru, berlari mendekati Ciel. Ciel pun menarik belatinya kedepan sembari menutup matanya, bersatu dalam irama alam. Para prajurit pun berlari semakin dekat.
“Spaccatura!”
Teriakan Ciel membuat belati itu bergetar. Diayunkanlah belati itu ke suatu titik didekatnya, hanyalah sebuah angkasa yang kosong. Mendadak terdengar retakan yang merambat cepat, membelah angkasa menjadi kepingan-kepingan. Dunia terasa seperti kaca yang mengalami kerusakan, retakan yang terus merambat keluar dengan cepat dan meraih para prajurit itu, membuat semua hal yang terjangkau oleh retakan itu terhenti dalam hampa. Seketika keluarlah cahaya lembut dari belati yang menandakan hancurnya semua retakan itu menjadi kepingan cahaya yang lambat laun sirna. Semuanya terlihat seperti sedia kala, tiada kehancuran seperti terbelahnya tanah sesuai yang nampak pada retakan tadi. Semua kembali, kecuali para prajurit yang terjatuh diam tak bernyawa.
“Bruk!”
Ciel pun jatuh tak sadarkan diri. Meninggalkan dengan tenang pertarungan tadi. Mengistirahatkan sejenak tubuhnya yang masih lemah karena kejadian misterius sebelumnya.
***
“Ciel, cepatlah sadar. Aku khawatir kita akan segera ditemukan oleh anak buah Figlio Di Infero.”
Tila hanya bisa menunggu dan menunggu hingga Ciel dapat sadar kembali. Tidak ada berita tersebar mengenai prajurit-prajurit yang mati semalam karena Tila dengan segera membuang mayat-mayat prajurit tersebut ke Lembah Truce dimana setiap tubuh yang jatuh kedalamnya akan dirasuki kembali dengan arwah para pengkhianat yang hanya akan terus menggali dan menggali dasar dimensi untuk menemukan kebebasan semu. Hanya tempat itulah, semua bukti kejahatan bisa disembunyikan, tempat yang berada diantara dimensi dan tidak berdimensi, tempat yang tidak bisa dijangkau oleh kekuatan Fiducia sekalipun.
Tiba-tiba tangan Ciel meraih Tila yang ada di dekatnya.
“Apa yang terjadi semalam? Apakah semuanya baik-baik saja?”, tanya Ciel dengan lemahnya.
“Tenanglah, semuanya aman. Hanya dirimu yang termakan oleh kekuatanmu sendiri. Kamu menuruti emosimu semata hingga lupa untuk menyatukan dirimu dengan Fiducia Dimension.”
Ciel kemudian termenung dan teringat bahwa dia termakan oleh kekuatannya sendiri hanya karena emosi semata, melupakan betapa pentingnya bersatu dengan irama Custode Chiaro, nama belati pamungkasnya itu. Dia sadar, kekuatan hanya akan merusak diri sendiri saat digunakan dengan emosi.
“Ciel, sepertinya kita harus menuju ke hutan Lapide untuk bertemu dengan seseorang yang mungkin akan sangat membantu kita. Tapi persiapkanlah dirimu karena kita akan menuju tempat yang mengerikan.”
Tila kemudian dengan pedang bermata Truth Stone yang menggantung dipinggangnya meraih tangan Ciel dan keluar dari gubuk untuk melanjutkan perjalanan.
“Tila...”, tanya Ciel dengan penuh kehati-hatian.
“Ada apa Ciel? Apa ada yang salah?”, jawab Tila dengan kecurigaan.
“Ah tidak, aku hanya ingin tahu, apakah kamu tahu cahaya apa yang membuatku sampai pingsan saat sebelum aku bertemu denganmu. Aku yakin kamu sudah melihatnya.”
Tila kemudian termenung seakan menyembunyikan sesuatu, terlihat berpikir untuk mengelak kebenaran.
“Itu bukanlah apa-apa. Itu merupakan kotoran Naga Utara yang kebetulan lewat dan kotorannya yang bercahaya seperti mutiara itu menimpa dirimu dengan sangat cepat.”, jawab Tila dengan tawa kecil menganggap kejadian yang dialami oleh Ciel merupakan hal yang konyol.
“Ah sial! Aku seperti orang tolol yang pingsan karena tertimpa oleh kotoran naga”
Ciel hanya bisa tertawa terbahak-bahak bersama Tila. Akan tetapi, dalam hati Ciel, dia menaruh curiga akan jawaban Tila yang terdengar seperti sebuah kebohongan.
Perjalanan terus berlanjut hingga akhirnya sampailah di Gerbang Anima yang terkesan gersang dan tak terawat. Semua tumbuhan terlihat layu dan menggantung, tidak ada kehidupan yang terlihat nampak. Sesaat melewati gerbang, seketika langit yang tadinya pagi menjadi malam yang gelap dengan kabut yang cukup tebal. Suasana hutan mati yang mencekam, hanya cahaya Red Moon yang sedikit menerangi namun menambah kelamnya tempat ini.
“Awas!”
Tiba-tiba saja Tila mendorong Ciel bersamaan seakan menghindari sesuatu yang sama sekali tidak disadari oleh Ciel itu sendiri.
“Ada apa tadi? Kenapa kamu mendorongku?”, tanya Ciel dengan penuh kebingungan.
“Tadi ada bayangan lewat, sangat cepat, kamu harus berhati-hati. Bayangan itu bisa membawa sebagian kekuatan jiwamu dan membuatmu merasakan ketakutan yang mengerikan. Tetaplah didekatku, hanya pedangku ini yang bisa melihat semuanya.”
Ciel kemudian baru sadar bahwa pedang milik Tila memancarkan cahaya kuning pada mata Truth Stone-nya. Pedang yang menurut sejarah hanya ada satu dan merupakan pusaka kebanggaan bangsa Verità karena bisa menembus semua kekuatan ilusi, kegelapan, dan masih banyak misteri akan kekuatan pedang ini. Namun bangsa ini telah dihancurkan oleh Figlio Di Inferno dan Tila merupakan bangsa Verità terakhir.
“Sepertinya kita harus segera sampai ke Anima Cuore untuk bertemu dengan pemilik dimensi ini. Ciel, jangan gunakan belatimu dulu karena kamu masih belum pulih sepenuhnya.”
Ciel hanya bisa mengikuti Tila untuk menuju ke Anima Cuore dan berharap dia tidak perlu menggunakan belatinya untuk mempertahankan diri.
“Tiarap!”
Kali ini Ciel dapat merasakan bayangan itu, akan tetapi saat Ciel yang tidak memiliki Truth Stone dapat merasakannya, itu berarti merupakan suatu pertanda buruk. Diatas mereka banyak ratusan Soul Eater yang terbang mencari jiwa yang sempat tercium oleh mereka.
“Kali ini sudah terlampau bahaya, peganglah tanganku Ciel, dan bayangkan bahwa kamu menyukai keberadaanku dan mempercayaiku”
Ciel kemudian menggenggam erat tangan kiri Tila dan mulai membayangkan. Dia merasa sulit karena sebelumnya dia menaruh curiga kepada Tila. Ciel pun panik dan berpikir keras bagaimana caranya agar dia mempercayainya. Akhirnya Ciel teringat kejadian pertama kali saat mereka bertemu dan menceritakan nasib yang sama, kepercayaan Ciel pun kembali. Seketika itu pula, bersinarlah mata Truth Stone dan ditariklah pedang itu oleh Tila.
“Fiducia Regret!”
Cahaya yang sangat terang keluar dari pedang itu dan membentuk suatu perisai cahaya dengan ribuan Peri Cahaya keluar dari serpihan pedangnya. Saat pedangnya habis, selesailah jutaan peri-peri itu keluar dengan cahaya yang sangat terang. Mereka melebur dengan tubuh Ciel dan Tila, membentuk sayap dan perisai cahaya yang sangat terang dan mengeluarkan aura yang membuat Soul Eater sekitarnya pupus.
“Velloce Mossa!”
Cahaya itu kemudian semakin terang, dimensi kemudian merapat dan secepat kilat jubah cahaya itu membawa Ciel dan Tila menembus semua Soul Eater dan sampailah ke Anima Cuore. Kemudian semua cahaya itu kembali membentuk ribuan peri yang terbang menyatu menjadi sebuah pedang kembali. Suatu kekuatan pertahanan yang tidak bisa disentuh sedikitpun oleh kekuatan kegelapan murni.
“Apakah ini yang namanya Anima Cuore?”, tanya Ciel yang terkagum karena ada pohon raksasa yang dikelilini oleh jutaan Light Wisp yang selalu beredar mengelilinginya.
“Iya, inilah Anima Cuore, jantung dari dimensi ini. Ini merupakan tempat sahabat bangsa Verità yang paling dipercaya, yaitu Bangsa Anima. Mereka memiliki kekuatan pertahanan yang luar biasa karena dapat mengkombinasikan dua kekuatan yang bertolak belakang menjadi dinding pertahanan yang luar biasa.”
Ciel kemudian melihat sekitar dan mengamati setia sudut dari pohon raksasa itu. Jutaan Light Wisp yang selalu beredar tanpa putus dan daun dari pohon itu yang nampak mengkilat, seperti tidak ada satupun daun yang sempat layu. Akar yang menghujam tanah dengan hamparan pasir berkilauan seakan menjadi tempat paling bercahaya di dunia ini. Sejenak dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah Tila.
“Tila, apa yang akan kita lakukan disini?”


*bersambung*
Tolong ya komentarnya untuk perbaikan~ :3