TRANSLATE THIS BLOG

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by Anang

Wednesday, October 2, 2013

Danar Tambah Tuo Ceritane (Ulang Tahun Danar)




Oke, masih tercatat di Schedule Boardku, tanggal 25 September 2013 itu adalah ulang tahun Danar. Akan tetapi tak terdengar bisik strategi untuknya seharian ini. Ah entahlah~ Akhirnya aku menanyakan masalah ini dan akhirnya strategi di jalankan. Karena aku lagi sakit, maka Agus yang pergi ke PGC untuk melakukan sesuatu.
Malamnya ada gladi resik persembahan himada. Imas, Agus, NK (Annisa), dan Danar ada di Auditorium kecuali aku, yang menuju ke Bonasut untuk membeli kue. Karena badan sedang tidak enak, maka aku hanya membeli kue nya saja dan masalah lilin aku ingat kalau di kos-an ada lilin putih yang biasa kalau mati lampu. Ada keisengan kalau rotinya ditancapkan dengan lilin itu saja. Akhirnya aku mencoba pergi ke kampus berharap Danar tidak menyadari kedatanganku.
“Shit!”, ternyata mereka berempat termasuk Danar ada di depan kampus. Apa-apaan sih, katanya ngasih kejutan tapi kok dibawa ke depan kampus gak bilang-bilang, untung saja aku sadar dulu dan memasukkan bungkusan plastik tersebut ke tas ku.
Kami berempat memutuskan untuk makan bersama di depan Mas Mono tempat biasa makan bareng. Saat Imas, Agus, dan Danar masuk ke warung, aku menyuruh NK untuk membawa roti dan ditancap dengan lilinnya yang big itu. Namun karena angin jalanan yang kasar tak hentinya merusak usaha penyalaan lilin, akhirnya aku tinggal saja NK. :p
NK kemudian dengan penuh rasa malu masuk saja ke warung karena tadi aku tinggal dengan membawa roti dan lilin yang udah ‘bobok’.
“Maaf ya Nar aku gak bisa romantis”, itu adalah kata-kata yang sering diucapkan Imas dan NK jikalau memberikan kejutan kepada siapapun karena selalu gagal. HWAHAHAAHAHAHA
Akhirnya kami makan bersama, namun bukan traktiran karena kami akan menagihnya esok malam... *evil laugh*
***
Esok sore aku pergi menuju GOR, rencananya sih bareng dengan Danar dan Agus, tapi karena lama menunggu Lele(Leilya) akhirnya aku duluan saja ke GOR. Di tengah perjalanan aku membanting stir ke Pondok Sunda saja menunggunya, lumayan lah lebih nyaman. Sekalian bareng si Imas, NK, Poppy (Kharisma), dan mbak Khokhom. Beruntung sekali aku menunggu di Pondok Sunda karena para wanita ini ternyata lebih lama persiapannya, jadi aku bisa istirahat sekitar 3 jam-an lahhh... #ehhh
Akhirnya Aku dan penghuni Pondok Sunda berangkat ke GOR karena sudah ditelpon oleh Danar untuk segera ke lokasi. Ternyata di GOR ada anak 55 yang sedang latihan, aku tahunya sih yang latihan Persembahan Angkatannya, entah kalau yang lain. Akan tetapi karena sudah sore, kami Shalat Maghrib dulu sebelum berangkat ke Kalibata.
***
Sampailah kami ke Plaza Kalibata dan diawali dengan shalat Isya’ dan dilanjutkan dengan makan-makan. Makan-makan kali ini cukup rumit dan lama dalam memilih lokasinya, karena untuk mengepaskan budget si Danar agar nanti waktu nonton film juga dibayari oleh Danar sekalian (Ini kata orang lho ya~ :p).
Akhirnya kami pun singgah ke HokBen dan seperti biasa, kamera naik ke panggung. Jepret sana sini tanpa memperdulikan pelayannya yang siapa tahu juga pengen difoto.







Singkat cerita kami itu hampir selesai makan dan tiba-tiba ada anak kos-an yang titip makanan dan aku bingung mau beliin apa dan akhirnya sekalian itu aja, Alhamdulillah bisa bayar sendiri~ :3
Kami pun akhirnya berangkat ke XXI Plaza Kalibata untuk menonton Insidious 2 yang disutradarai oleh James Wan. Sekali lagi ada saja yang menghilang sebelum film dimulai karena ingin beli ini dan itu. Setelah semua berkumpul, akhirnya kami bisa menonton filmnya. Kami memesan deret kursi yang sejajar 8 orang.
Tadinya aku diapit mbak Khokhom di kanan dan Poppy di kiri, akan tetapi karena Imas sering menganiaya mbak Khokhom kalau ada scene yang mengagetkan, akhirnya aku pindah posisi dengan mbak Khokhom. Aku akhirnya berada di sebelah Imas dan tidak mungkin Imas akan menganiaya diriku. Akan tetapi, penganiayaan diganti dengan teriakan yang mengagetkan. Teriakan Imas sering sekali membuatku kaget sehingga aku jadi ikutan kaget, dan itu merambat ke mbak Khokhom dan Poppy dan tentunya Lele dan mungkin sampai Agus juga. Rasanya bukannya takut tapi malahan ketawa terbahak-bahak, merusak suasana kehorrorran film tersebut. :v
Setelah selesai yah kami pun menyempatkan untuk mengambil moment dengan jepret poster Insidious 2. Malam yang benar-benar gokil terutama saat Lele tahu kalau film yang akan ditonton itu adalah film horror, dia kemudian saat awal film sudah langsung memasang headset dengan volume maksimal sampai si Poppy yang berada disebelahnya bisa mendengarnya. Akan tetapi karena suara bioskop yang bagaimanapun lebih kencang, akhirnya Poppy menjadi korban~ :v










Begitulah sekilas malam saat itu... Sebenarnya aku dan Imas sedang membuat cerpen duet untuk Danar. Akan tetapi karena belum selesai ya tidak bisa diberikan pada saat itu deh. Akan tetapi sekarang saat penulis menuliskan postingan blog ini Alhamdulillah selesai.
O ya ketinggalan, sepulangnya si Danar langsung membuat sketsa kasar tentang kita lho... Tapi tentunya dia tidak termasuk dalam sketsa itu karena kalau dia menggambarkan dirinya itu akan nampak lebih kurus 60%... :v Sebenarnya ada dia sih, tapi karena sketsanya beda sendiri jadi gak aku anggep... :v






 
Jangan lupa ikuti terus cerita Pieces of Memories hanya di SINI! :3 ~

Anggota Baru Kos Jus Nenek



Wait! Apaan sih ini judulnya kok aneh begini? -,-
Oke, begini ceritanya~
Sekian lama aku menunggu, ada kabar bahwa akan ada 2 maba yang menempati kos ku. Aku bertanya-tanya nih siapakah mereka? *sambil lirik sana sini*
Ah, ku coba untuk kepo grup angkatan 55 karena dengar-dengar anak-anak itu dari Bandung. Tapi ternyata ada banyak pilihan juga, ahh menyebalkan. Akhirnya aku pasrah saja, menunggu kedatangan mereka.
Daftar ulang mahasiswa baru STIS akan segera dilaksanakan, kok gak sampai-sampai sih ini penunggunya~ #ehh
Akhirnya disuatu malam yang gelap dengan rayuan lembut angin sepoi malam mengantarkan suara ribut perusak harmoni alam.
“Ahh ada suara langkah kaki! Banyak sekali sepertinya yang datang. Siapa mereka!”
Sambil mengintip, lensa mengukur akomodasinya dengan teliti, meraih gambaran yang jelas akan objek yang diselidiki. Tertangkap dengan jelas rombongan keluarga yang datang.
“Ahh itu pasti maba yang datang!”
Aku pun beranjak mencoba menyambut, tentunya mengenakan celana panjang terlebih dahulu agar nampak sopan, terpujilah tata kramanya.
“Eh, mas Adit ini nih yang bakalan nemenin mas Adit”, kata nenek yang nampak cerah serasa malam sudah siap untuk digantikan fajar.
Ku berdiri sekaligus mengamati siapakah yang datang itu. Ah ternyata sebuah keluarga harmonis dan... Ada seorang laki-laki yang sangat nampak pendiam dan aku yakin dialah penghuni baru ini.
Begitu repot dan ruwet suasana saat itu, ramai laju naik turun tangga membawakan barang-barang yang dibutuhkan seorang anak kos. Agar tidak mengganggu kesibukan tersebut, aku menghindar ke belakang bersama kak Norman disamarkan oleh gelapnya bayang.
“Mas, sepertinya mabanya pendiem banget tuh mas”, sahutku mengganggu pengamatan mas Norman akan kesibukan itu.
“Gak Dit, menurutku sih dia itu orangnya terlihat diam, tapi kalau sudah ketemu dengan orang yang cocok bisa ramai dia”, nasehat kak Norman merekahkan pemikiranku.
“Kalau begitu nanti aku ajak ngobrol saja deh mas”
Setelah nampak selesai dan sudah beranjak ke tengah malam, aku kemudian ngobrol dengan bapak dan maba itu. Akhirnya ku ketahui bahwa mahasiswa baru itu bernama Ichsan Hasanudin. Bapaknya berbicara banyak hal dan aku senantiasa memperhatikannya dengan lekat sebagai aktualisasi tata krama yang pernah kupelajari. Beberapa belas menit kemudian, Ichsan bergabung dalam pembicaraan ringan ini dengan pakaian yang sudah berubah menjadi lebih santai. Pembicaraan terus berlanjut sampai menginjak dini hari dan akhirnya keluarga Ichsan pulang. Aku sebelumnya sempat agak kesal saat nenek(ibu kos) berbicara bahasa Sunda dengan keluarga Ichsan karena aku tak mengerti sekalipun apa yang dibicarakan. Ibu dari Ichsan sempat berpesan padaku akan hal yang cukup menggelitik hati karena sejatinya itu juga cocok untukku.
“Nanti tolong Ichsan dibantu ya, dia anaknya suka manja, tolong dibantu dilingkungan baru ini” sekiranya begitulah beliau berpesan.
Kak Norman kemudian bergabung dalam pembicaraanku dengan Ichsan. Aku dan Kak Norman saling sharing mengenai dunia sekitar. Kantuk tetap kami terabas agar kami bisa lebih akrab. Aku juga menjanjikan pada Ichsan kalau aku akan mengajak jalan-jalan agar dia mengerti daerah sekitar.
Sempat terpikir dalam benakku, bukannya ada 2 maba ya? Dimana yang satunya?
Setelah kutanyakan pada Ichsan, ternyata dia akan datang saat hari pendaftaran ulang pertama langsung dari Bandung.
Paginya aku mengantarkan Ichsan untuk sarapan karena belum tahu warteg sekitar sekaligus ke STIS sekalian, masalah belum mandi kuhiraukan. Di STIS aku bertemu dengan banyak maba yang telah ku kenal karena aku sering jaga di Laa Tahzan. Karena aku rasa kehadiranku cukup membuatku risih mengingat kalau aku memakai jaket angkatan, akhirnya aku kembali ke kos.
Siangnya akhirnya aku mengetahui maba yang satunya, dia ku ketahui bernama Devane. Bapaknya ternyata cukup bisa berbahasa Jawa. Devane lebih cepat terlihat akrab dan ternyata dia mengerti bahasa Jawa meskipun tidak dapat mengucapkannya.
Kami dengan lengkap setiap malam saling sharing sehingga dengan cepat kami dapat akrab, karena keakraban dalam kos itu sangat penting, banyak manfaatnya lah pokoknya. Aku kalau pagi suka mengajak Ichsan untuk berjalan-jalan sampai kesana sini dan yang aku heran pada saat itu Devane kemana ya kok rasanya gak keajak. =,=
Setelah mendalami karakter yang ada pada diri mereka, aku dapat sedikit memberikan identifikasi dengan dukungan kepo yang mempertajam analisis akan karakter Ichsan dan Devane. Apakah perlu aku tulis? Sedikit saja lah ya~ Yang bagus-bagus saja~
Ichsan, menurutku dia itu orang yang seperti cerita di atas awalnya terlihat pendiam, ternyata cukup konyol dan suka berlagak manja kayak anak kecil, jadi sering banget bikin kesel, berasa pengen masukin ke sumur terus diguyur pake ribuan ikan sarden dan biji kedelai hitam pilihan (berasa iklan Bango) =,=. Satu yang aku soroti dan tak pernah hentinya aku nasehati yaitu masalah tulisan, karena dia menulisnya pakai latin, tapi karena dia tulisannya cukup bikin pusing, jadi aku selalu nyuruh dia untuk lebih “diluruskan” tulisannya. Meskipun begitu dia udah ada yang punya lho, anak Statistik Padjadjaran~ (yang dengan bangganya ngasih tahu ke aku kalau lebih tua-an dia daripada aku, sial! -,-).
Devane, ini karakternya terlihat lebih mandiri didukung dengan pengalaman-pengalaman mengerikannya yang tak satupun pernah aku alami, Alhamdulillah~ fiuuuhhh~. Suka banget kerja sepertinya, nampak saat Magradika (aduh melompati alur, berasa forecaster).
Pra Magradika dan kemudian disambung dengan Magradika terjadi peristiwa yang cukup menarik. Kos ku pada saat itu memuat 4 maba, dua tambahannya yaitu Putra dan Juardi yang suka main dan aku suka karena suasananya jadi lebih ramai. Putra aku suruh sekalian nginep di kos terus karena agar memudahkan diriku juga, maklum aku jadi panitia pengantar sarapan Rohis juga, jadi harus melakukan strategi agar lebih mudah. Putra ini kalau bercerita itu kadang lucu karena medhoknya yang sangat kental, mBlora banget! :D Dan yang perlu digaris bawahi bold italic itu adalah anak ini itu Konyol Banget... :v
Sedangkan si Jho(Juardi) kalau sedang mengerjakan tugas Magra itu suka banget pecah konsentrasinya karena suka banget yang namanya cerita. Sedikit-sedikit cerita, cerita, dan cerita sehingga tugasnya malam jadi malam banget dan dia sangat sering ketiduran padahal cuman bersandar di kursi. Pernah saat ada tugas mengarang, si Jho itu “macet”nya lumayan lama, jadi aku mencoba untuk bantu dikit karena aku lumayan suka mengarang dan memang tugas Magra yang paling mudah itu ya yang part seperti itu. Kemudian karena aku kebelet buang air kecil, akhirnya aku ke kamar mandi. Eh waktu aku kembali tiba-tiba terlihat tubuh manusia yang tergeletak tak berdaya menahan kantuk yang memukulnya dengan telak.
“Parah nih anak, baru juga ditinggal sebentar sudah ketiduran.”
Iseng-iseng aku lanjutin aja kerjaannya sedikit selagi belum mengantuk dan belum ada panggilan untuk ke basecamp. Setelah itu, barulah aku pergi ke basecamp. Namun sebelumnya aku mengecek anak-anak lainnya biar gak ada yang ketiduran seperti Jho. =,=
Sehabis mengantarkan sarapan, aku sekalian membangunkan ke-4 maba itu. Membantu mereka itu bisa bikin hati senang entah mengapa. Dan selalu tiap pagi pasti ribut nih si Ichsan masalah tugasnya yang belum jadi dan rata-rata dia itu ketinggalan banyak tugas saat dia harus menginap di kos temannya. Sifatnya yang suka memanja minta tolong itu bikin aku akhirnya ikut membantu juga deh, aku orangnya gak tegaan sih soalnya (makanya sering teraniaya =,=), aku akhirnya ikut nulisin tugasnya, lumayan lah pagi-pagi buat olahraga tangan.
Berbeda dengan si Devane yang pekerja keras, cuman sekali minta tolong dan itupun cuman mencarikan bahannya doang dan itu karena memang dia itu sedang sangat sibuk masalah transportasi.
Oke karena mereka tidak setor foto, jadi aku asal ambil foto ya... :v
Ini nih penampakan mereka... :v
Ichsan

Devane

Pamput (Pambudi Putra)

Jho (Juardi)

Namanya juga penulis, berarti yang menulis cerita kan? Gak mungkin lah aku nampilin juga keburukanku disini. :p
Yang pasti aku beberapa hari pernah dikerjain kak Norman, Ichsan, dan Devane. Sialan banget mereka. =,=
Akan tetapi keramaian itu sejenak pupus lantaran mereka berdua, Ichsan dan Devane, pergi untuk menjalani rangkaian Magradika yaitu Bela Negara. Sialnya setelah keberangkatan mereka, beberapa jam kemudian aku langsung jatuh sakit sampai harus ke dokter karena kena ini dan itu serta tensi darah yang naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali.
Untung selama mereka tidak ada, aku memiliki kesibukan tersendiri, jadi gak terlalu merasa sepi lah di kos. Aku juga mau minta maaf sama kelompoknya Devane nih karena PHP-in mereka waktu aku tawarin ke Kontrakan Macho karena lumayang banyak orangnya, tapi eh kebetulan aku lagi ada rapat disitu jadi tidak bisa diganggu. Moment yang kurang tepat. Hohoho~
Oke sudahlah, lumayan ini lagi sakit nulis seperti ini bisa membuat hati sedikit terhibur~ 6 hari lagi kedatangan mereka, semoga tambah item ya~ :D

O iya ini sengaja aku posting telat agar banyak yang baca~ hohoho~ Sebenarnya sudah jadi sejak tanggal 16 September 2013 pukul 19.42 WIB~ Jadi aku save dulu, kemudian aku post saat mereka sudah kembali~ Hohoho~
***
Oke aku baru ingat kalau ada tulisan ini di laptop pada hari ini tanggal 2 Oktober 2013... -_-
Lanjutin saja lah ya... -,-
Suatu siang saat aku lagi mengikuti POR Bridge yang menyedihkan, aku melihat rombongan hijau-hijau mendarat di STIS bertepatan saat waktu Dzuhur.
“Ah, itu pasti mereka.”
Aku dengan memasang tampak cuek agak cool (maksa banget -,-) akhirnya masuk saja ke Masjid untuk shalat.
*skip*
Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB dan pertandingan selesai, aku pun kembali ke kos. Tampak Devane dan kelompoknya yang ada di kos, dan jejak Ichsan yang menunjukkan dia kembali ke basecampnya dan Mas Norman yang entah dimana.
Aku dengan langkah capek memasuki kamar dan mendengarkan lagu.
~ Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you’re missin' home
Only know you love her when you let her go
And you let her go ~
*skip*

“Cling! Cling!”
Suara pesan masuk ini mengagetkan kesendirianku, ternyata sebuah pesan yang sangat langka yaitu kumpul SES untuk membahas UKM Creativity. For God’s sake, aku itu gak pernah masuk SES karena tabrakan sama Bridge. Tapi tak apalah, aku berangkat saja, lumayan jadi figuran daripada tidak ada kerjaan (padahal banyak kerjaan yang gak terurus -,-).
Di sana hanya terkumpul kak Hafshoh, kak Nia, kak Syarifah, Nelse, Rizki, dan Aku. Menyedihkan bukan? Kemudian kami berdebat masalah apa yang bagus buat mengisi acara mengingat pertunjukkan SES dari tahun ke tahun itu semacam talk show mewawancarai seseorang dengan English yang cepet dan bahkan UKM Creativity tahunku aku aja gak memperhatikan pertunjukannya SES ._.
Tahun ini penampilan diserahkan ke 54, akan tetapi Nelse sibuk karena melatih BKM Tari Tradisional, Rizki jadi Papida, nah aku deh yang kena akhirnya. Akan tetapi personil masak cuman aku doang yang bisa, akhirnya aku menghubungi Mukhlis dan Ari Sudana. Mukhlis rencananya aku suruh presentasi karena dia suka jadi News Caster, terus Ari Sudana jadi MC, aku jaga stan saja soalnya aku pemalu. Akan tetapi desakan para wanita ini membuatku terpojok dan aku terlempar ke MC. What the.... Aku belum pernah nampil di depan orang banyak macam gitu buat ngomong gini gitu. Akhirnya di tetapkan penampilannya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu game berhadiah biar aku nya gak terlalu banyak bicara karena memang aku gak bisa ngomong di depan orang banyak. Tadinya sih mau talk show juga dengan bintang tamu kakak SES yang baru saja pertukaran pelajar di Amerika kalau gak salah. Seringnya kan gitu lah dari tahun ke tahun, talk show kakak-kakak SES yang sukses gitu, cuman aku takutnya ya yang biasa terjadi juga, gak terlalu diperhatikan karena gak pada ngerti apa yang di omongkan karena biasanya kan full English. Lagipula aku juga gak ngerti mau ngomong apaan. -,- Pokoknya jangan lupa ya ikutin OR nya sekitar bulan November, mari belajar bersama bahasa Inggris karena aku sendiri aja masih newbie banget, entah kenapa bisa masuk SES... -,- Penting juga nih buat yang mau masuk KS, entar kata Miss Fi (sesepuh SES, anak KS, Owner Group Kelas bahasa Inggris) bakalan ada dosen yang kalau kuliah di matkulnya harus pakai bhs inggris terus selama kuliah, buat yang minat KS lhooo~ Untung aku gak minat~ :p #lupakan
UKM Creativity segera dimulai. Di pagi yang menegangkan ini terdengar kabar barang-barang yang akan di pajang di bawa seseorang dan orang itu tidak dapat dihubungi termasuk slidenya. Mukhlis pun beralasan suaranya habis sehingga dia jaga stan SES saja. Sungguh pagi yang membuat pusing. Apalagi hadiah yang belum jelas kemana perginya. Akhirnya aku kesana kemari mencari barang seadanya dulu dan syukurlah papan Scrable sudah sampai di Auditorium. Akan tetapi kabar buruk seperti palu yang menghujamkanku ke tanah, TIDAK ADA SLIDE DAN PEMBICARAAN BUAT DI DEPAN!!! Berasa doing to die banget... Mau ngomong apa coba di depan kalau gak ada slidenya. Prihatin banget pokoknya. -,-
Akhirnya aku dan Ari pun maju ke depan dan sudahlah tidak usah di bahas, memalukan sekali dan geje. Tapi ada seorang miba yang komentar seneng karena dapet hadiahnya, lumayan lah bikin hati terobati sedikit._. Karena malu akhirnya aku jaga stan Rohis atau Nihongo Bu saja lah, kalau Bridge sudah ada Dhani yang jaga dan tempatnya sedikit jadi gak mungkin nongol disitu. Sebenarnya bukan karena malu juga sih, tapi lebih kepada bosen mau ngapain yaudah nyamperin temen saja lah.
Eh wait! Fokus utamaku di awal kan Devane dan Ichsan yang jadi anggota baru kos an, tapi kok malah jadi curhat nyasar gini. -,-
Ahh entahlah, ini tulisannya udah terlanjur 5 halaman, takutnya nanti kelihatan panjang waktu di posting ke Blog... Sekian dulu lah ya... Jangan lupa ikuti cerita selanjutnya yang akan tayang malam ini, Insya Allah... J
Ahh kos sepi nih mereka berdua yang memang dari Bandung pada balik, tinggal aku dan Mas Norman yang di kos. So, what will I do? Ngejus aja lah~ :v

"Sebelumnya saya minta maaf apabila ada yang berduka karena tulisan saya... Sekian dan Maaf~" :v

*IKLAN*
Mohon Dukungannya duta Jawa Tengah untuk menjadi pemenang dalam Putra Putri STIS 2013 kategori "Papida Terfavorit". dengan cara like foto berikut : terima kasih.. https://www.facebook.com/photo.php?fbid=199967163518939&set=a.199964653519190.1073741832.188586311323691&type=1&theater

Tuesday, September 17, 2013

Ulang Tahun Sabiel ke 19



Hohoho~ Tanggal 14 September 2013 tentunya merupakan salah satu hari bersejarah dari seorang yang bernama Sabiel (PD banget -,-). Hari itu dia dihakimi massa karena diketahui bahwa memiliki hubungan terselubung dengan tanggal tersebut. Yap! Ulang tahun!
Oke, begini ceritanya~
Pada saat itu, di siang yang panas aku menyibukkan diri untuk membantu dekorasi JaTeng dengan mencari kertas semen dari rumah ke rumah. Tentu saja dengan bakat mandor yang aku punya, aku ditemani Mursyid, barbagi tugas dengan cukup adil. Aku mengajaknya jalan-jalan mengitari, dan Mursyid yang membawa dan melipat-lipat kertas semen yang kotor tersebut ._.v
Singkat cerita nih yeee, sehabis Dzuhur aku kemudian cap go to the Kosnya Vicky. Rencananya sih kumpul dengan Qonnita dan Atika untuk menyiapkan kejutan untuk Sabiel yang dimana dimalam sebelumnya juga sudah merapatkannya. Akan tetapi aku baru sadar kalau itu kos merupakan basecamp cewek yang menjadi sasaran utama para maba miba untuk mencari tanda tangan kakak tingkat (Tugas Magradika mereka) dan sialnya aku sudah terjebak di dalamnya.
Sebelumnya aku mau makan, tetapi karena sudah sampai di kosnya Vicky akhirnya sekalian bareng saja. Namun karena wartegnya lagi penuh, terpaksa deh makan di kosnya Vicky. Sial cerita, lagi khidmatnya menikmati lauk pauk yang menggugah selera tersebut, eh ada gerombolan makhluk asing yang haus akan tanda tangan. Desakan mereka cukup membuatku merah padam, bukan marah tetapi malu, takut ada salah sangka. Apalagi si Ke’p’in yang tadinya ikutan menemani malahan balik ke kamar dengan penuh kesengajaan (suudzon ceritanya).
Akhirnya segera aku habiskan dan ternyata aku harus melayani tanda tangan ini dan itu, huh terasa sangat panas sekali saat itu, mana harga diriku selalu dijatuhkan sama Qonnita, Vicky, dan Atika setiap saat sehingga menambah suasana panas dan membuat sangat terasa dehidrasi.
Akhirnya setelah waktu sudah sangat mepet, kami menyiapkan segalanya. Saat pembuatan ini dan itupun masih ada maba miba yang minta, ribet dah jadinya.
Singkat cerita nih ya kami selesai menyiapkan dengan formasi Atika dan Vicky ke Tajun duluan dan Aku n Qonnita jemput Sabiel di kos Qonnita. Ini semacam konspirasi dengan alibi main badminton di Tajun. Kami kemudian membawa Sabiel ke Tajun dan sempat terkaget dengan ditemukannya onggokan mayat tikus raksasa.
Singkat cerita sampai juga di Tajun dan ketemu dengan mereka. Aku dan Qonnita sempat pamit beli es yang sebenarnya ingin menyiapkan kue, sayang seribu sayang terjadi misscommunication sehingga kamu balik lagi dan gantian Qonnita ngajak Vicky karena ternyata semua perlengkapan dibawa Vicky. Aku dan Atika yang menyibukkan Sabiel dengan ocehan kami akhirnya datanglah kejutan kue yang terlihat WoW. WoW bukan karena kuenya, melainkan lilinnya yang seperti Monas, gedheeee~ -,-




*btw ini maksa banget fotonya karena harus agak merunduk karena desakan cewek-cewek yang terlalu merendah nih~* -_-
Setelah sesi tiup lilin, segera tepung kanji yang aku beli dilemparkan kepada Sabiel. Mantab dan masih kurang, kami mengguyurnya dengan mata air yang melalui 27 kali penyaringan tentunya.
Setelahnya, kami kemudian mengaraknya ke kosannya di Bonsela yang cukup dekat dengan Tajun. Seharusnya sih diarak sekalian aja ke Otista 64C -,-



Kami ikut meruwetkan dia dengan memasuki kamarnya. Bersantai tanpa dosa padahal kami juga kena tepungnya juga.


Kami kemudian menempelkan kata pesan yang kami buat dan kemudian memberi sesuatu yang tentunya kebetulan sekali sangat cocok lah ya dengan dia sekarang dan tentunya RAHASIA~ :v
Selamat ultah ya Sabiel (pada saat itu) dan semoga tambah bah bah seperti yang tercantum. Tingkat 2 tetep ajarin aku ya meskipun nanti kamu dijeblosin ke KS~ :p